Opini Terbaru

Sinergisitas Guru dan Orang Tua dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

DaRMAWANOleh: Darmawansyah, S.Pd.I

Berbicara soal pendidikian, tidak pernah terlepas dari berbagai macam proses yang dilalui, terutama oleh peserta didik. Peserta didik selain sebagai objek pendidikan juga merupakan subjek didik yang masih membutuhkan arahan dalam mengembangkan dirinya agar menjadi manusia yang berkualitas dalam segala hal.

Aktivitas pendidikan sendiri merupakan sebuah proses yang terus berjalan yakni sebuah kegiatan yang sadar atau tidak selalu dan pasti dilalui oleh setiap manusia, sehingga para tokoh pendidikan mendefinisikan pendidikan itu dengan tidak melepaskan kata “proses” dalam defenisi pendidikan tersebut.

Pendidikan di dalam Islam berjalan tidak hanya di lingkungan formal sebagaimana yang terpatri pada sebagian teori pendidikan, namun pendidikan dalam Islam lebih fundamental dari itu, yakni berjalan semenjak seseorang dalam memilih jodoh sebagai pasangan hidup hingga akhir hayat. Pun demikian, selama ini pendidikan yang disadari bersama, terutama dikalangan masyarakat luas adalah berupa apa yang terjadi dalam dunia pendidikan formal belaka, sehingga pendidikan itu hanya ditanggung jawabi oleh pendidik di sekolah.

Pemahaman ini telah menjadi salah satu persepsi dikalangan masyarakat luas dalam memandang proses pendidikan yang menuntut lembaga pendidikan harus mampu menjadi lembaga yang mengembangkan anak didik menjadi manusia yang seutuhnya. Persepsi tersebut bukan tidak beralasan, Alasan yang mendasar adalah rendahnya pendidikan masyarakat sehingga persepsi demikian menjadi salah satu pegangan dalam memandang pendidikan.

Menilik kepada agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia adalah Islam, namun keIslaman dari masyarakat Indonesia ini hanya sebagai sebuah “jati diri” ketauhidan dari setiap individunya. Pada dasarnya agama merupakan sebuah pijakan dari setiap pemeluknya untuk menjalankan lini kehidupan mulai dari hal yang kecil hingga kepada hal-hal yang besar.

Begitu juga dengan pendidikan. dalam Islam, dasar-dasar pendidikan sangat banyak dijumpai dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dua sumber ini merupakan sumber dasar dari segala tindak tanduk setiap pemeluknya dalam melaksanakan segala kegiatan yang akan dilakukan. Namun dasar Islam itu sering tidak terpahami dengan seksama sehingga masyarakat memiliki persepsi yang jauh dari dasar Islam tersebut.

 Sebagaimana judul tulisan ini, penulis sedikit memberikan gambaran dari sebuah hadits yang merupakan salah satu dasar dalil dari proses pendidikan, dan dalil ini sangat populer dikalangan umat Islam. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

عن أبي هريرة رضى االله عنه قل: قل رسول الله صلى الله عليه وسلم: مامن مولود إل ايولد على الفطرة ،فأبواه يهودانه أوينصرانه أويمجسانه٠

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (H.R. Al-bukhari).

Dari konteks hadits tersebut, tersebutlah kalimat فأبواه yang banyak dipahami dan diartikan dengan kalimat “orang tuanya”, dan dari setiap terjemahan hadits selalu ditemukan kalimat tersebut. Dimana terjemahan tersebut tidak mungkin terlepas dari makna dasarnya yakni “Ayah/Bapak” dari kata dasar  أب .

Dari konteks dasar hadits tersebut, yang bertanggung jawab penuh dalam proses Islam atau tidaknya seorang anak manusia adalah ayah/bapak dari anak tersebut. Namun tidak mungkin semua itu terbeban kepada ayah belaka, tetapi ada orang lain yang juga memiliki tanggung jawab yang sama yakni ibu. Ibu juga orang yang berpengaruh sangat dekat sekali dalam kehidupan seorang anak manusia. Kedua insan ini tidak mungkin dilepaskan dari perkembangan jiwa dan raga seorang anak.

Orang tua adalah orang yang sangat dekat dengan kehidupan anaknya, oleh karena itu, proses pendidikan manusia dalam Islam tidak dimulai dari anak itu dilahirkan namun semenjak seorang insan mencari pasangan hidupnya. Hal ini akan menjadi dasar dari keberlangsungan kehidupan generasi-generasi yang akan datang.

Dalam perkembangan pengetahuan dewasa ini, anak yang berada di dalam kandungan seorang ibu juga sudah memiliki kemampuan menerima rangsangan dari ibunya sendiri, hal ini diketahui dari proses pembentukan organ vital manusia yakni otak yang telah berfungsi saat janin berumur empat bulan didalam kandungan ibunya. Otak seorang anak yang merupakan organ yang terbentuk lebih awal dari organ-organ yang lainnya adalah juga organ vital manusia yang jika rusak maka rusaklah seluruh dimensi kemanusiaan manusia itu sendiri.

Rangsangan-rangsangan tertentu dari seorang ibu sangat berpengaruh bagi janinnya sendiri, sehingga Islam menganjurkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik saat seorang ibu mengandung janinnya. Bacaan-bacaan Al-Qur’an dan perbuatan-perbuatan yang baik selalu dianjurkan sebagai wirid bagi seorang ibu yang lagi mengandung agar janin yang dikandungnya menjadi orang shaleh dikemudian hari.

Anjuran-anjuran Islam ini merupakan sebuah proses pendidikan yang tidak disadari oleh kalangan umat Islam, sehingga mayoritas umat Islam mengenyampingkan hal tersebut dan menekankan pendidikan anak saat anak telah dilahirkan. Pendidikan yang merupakan kegiatan kontinuitas yang tidak terputus dari semenjak anak didalam kandungan merupakan sebuah proses yang utamanya terus berjalan, namun berjalan hanya pada batas-batas tertentu dan ini terlihat sangat kontras di zaman modern ini.

Pendidikan anak yang aktif hanya berlangsung dikala seorang anak lahir hingga anak mencapai umur 7-9 tahun, dan ada pula orang tua yang hanya menjalankan pendidikan hingga anak berumur 5-6 tahun saja. Setelah itu anak dilepaskan mengikuti pendidikan formal tanpa bimbingan lanjutan yang aktif dari orang tuanya. Inilah yang menjadi sebuah persepsi mayoritas orang tua bahwa proses pendidikan dikalangan orang tua atau keluarga hanya berlangsung pada umur tertentu, sedangkan perjalanan pendidikan lanjutan dari seorang anak berada di sekolah.

Jika kita menilik hadits Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wasallam di atas tanggung jawab orang tua terhadap anak tidak memiliki batas yang ditentukan dengan jelas dan pasti, dan bahkan konteks hadits tersebut adalah konteks universal dari sebuah tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.

Bagaimana dengan guru? Guru adalah pendidik dan pengajar, namun jika melihat konteks kekinian, guru adalah orang yang bertugas sebagai transfer of knowledge bagi anak didiknya. Guru dalam zaman modern ini sangat jauh dari konteks guru di zaman-zaman abad pertengahan, apalagi jika dibandingkan dengan abad awal hijriah dimana guru sebagai orang tua kedua setelah orang tua anak didik tersebut. Hal ini tidak dipungkiri karena memang perubahan zaman yang telah membawa kondisi guru dengan kondisi zamannya, namun ada sebagian dari tugas guru yang masih menjadi kode etik guru sebagai pendidik yakni “guru sebagai orang yang ditiru dan digugu”. Pun demikian tugas guru sebagai transfer of knowledge merupakan kegiatan utama yang berlangsung pada lembaga pendidikan formal dan memang lembaga ini adalah lahan dari kerja seorang guru.

Dalam tri pusat pendidikan, dikenal tiga lahan pendidikan yang sangat berpengaruh bagi peserta didik yakni informal, formal dan nonformal, yang sering disebut dengan keluarga, sekolah dan dan masyarakat. Namun dari ketiga lahan pendidikan tersebut dewasa ini hanya dua lahan yang sangat berpengaruh dalam pendidikan anak yakni sekolah dan keluarga.

Dua lembaga ini adalah lembaga yang aktif dalam proses pendidikan, sedangkan masyarakat jika melihat dari fenomena yang ada adalah hasil dari proses pendidikan keluarga dan sekolah. Baik buruknya kondisi masyarakat hari ini adalah hasil dari kedua lembaga tersebut (keluarga dan sekolah).

Buruknya akhlak dan rendahnya moral serta berbagai fenomena dewasa ini merupakan hasil dari proses pendidikan yang ada. Siapa yang disalahkan? Gurukah? Atau orang tua? Kedua-duanya mungkin tidak tersalahkan karena memiliki berbagai alasan tersendiri.

Rendahnya pemahaman pendidikan masyarakat membuat pengetahuan akan pentingnya pendidikan kontinuitas bagi sang anak tidak terpahami dengan baik, sehingga menganggap bahwa tanggung jawab pendidikan orang tua hanya berlangsung sampai batas tertentu saja, sedangkan selebihnya adalah tanggung jawab sekolah sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam pengembangan pengetahuan dan keberhasilan anak tersebut.

Persepsi orang tua menyebutkan bahwa sebelum anak masuk dalam dunia pendidikan formal itu merupakan tanggung jawab orang tua, segala kasih sanyang, bimbingan dan arahan mereka lakukan dengan baik bahkan proteksi akan gangguan sesuatu dilakukan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan pada saat anak masuk dalam lembaga pendidikan formal dan dianggap tidak perlu ekstra dalam memberikan bimbingan dari orang tua, dan orang tua hanya menganggap bahwa mereka hanya bertugas memenuhi kebutuhan financial belaka, karena anak dianggap telah mampu menjalani kehidupannya.

Sedangkan guru adalah orang yang hanya sehari-hari bertugas sebagai transfer of knowledge di lembaga pendidikan formal tidak mampu lagi menjalankan fungsinya secara utuh sebagai orang tua kedua dari orang tua anak didik karena terbebani tugas dengan jenjang kurikuler yang harus tercapai dalam satu pertemuan dan tuntas pada waktu yang telah ditentukan. Hal ini menyebabkan proses pendidikan dilembaga sekolah tidak mampu memberikan bimbingan secara utuh kepada anak didik, ditambah lagi beban belajar yang dijalani oleh anak didik sangat beragam dan tidak akan terpahami dengan sempurna dari seluruh materi yang diajarkan oleh guru kepada anak didik tersebut.

Jika merujuk kepada tujuan universal pendidikan dimana pendidikan merupakan suatu proses yang mengarahkan manusia pada keutuhan kualitas manusia yang disebut dengan insan kamil, dalam Islam merupakan manusia yang sempurna yang terpatri dalam bentuk akhlak dan kualitas intelektual dari seseorang maka pendidikan tidak hanya dibebankan pada pengembangan pengetahuan seperti yang berjalan selama ini pada lembaga pendidikan, namun harus diiringi dengan bimbingan dan arahan akhlak yang baik dari kedua belah pihak yakni guru dan orang tua.

Namun, tanggung jawab terbesar dalam membina akhlak seorang anak didik adalah orang tua si anak didik tersebut. Melihat jumlah jam sekolah dengan jam seorang anak bersama dengan orang tuanya, lebih banyak jam anak bersama dengan orang tuanya dari pada jam sekolahnya. Seorang anak hanya mengikuti proses pendidikan semenjak pukul 07.30 pagi hingga 13.45 siang, sedangkan selebihnya anak didik bersama dengan keluarganya.

Satu hal lagi yang perlu dipikirkan, seorang guru memberikan materi pelajaran paling lama 3 jam perhari (45 menit/jam) dengan materi yang berbeda-beda dalam setiap harinya ditambah dengan guru yang berbeda pula, dengan ketidak linearan materi yang diajarkan tersebut membuat anak didik hanya memperoleh materi secara teori dan yang disenanginya saja, sedangkan perubahan akhlak dan moral tidak akan terbentuk dengan baik jika diharapkan pada lembaga pendidikan sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam perubahan akhlak dan moral bagi anak didik tersebut.

Dengan demikian, sinergisitas antara guru dengan orang tua murid menjadi jalan terbaik yang akan membentuk generasi yang berkualitas sempurna. Hal ini dapat dilakukan dengan komunikasi aktif antara guru dan wali murid melalui wali kelas dengan mengaktifkan kontrol wali murid di rumah secara efektif dan berkelanjutan, serta menyadarkan orang tua murid sebagai orang yang sangat bertanggung jawab terhadap anak didik sendiri, sebagaimana bunyi sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di atas.

Kontrol orang tua sangat dibutuhkan dalam proses perkembangan psiko anak yang lagi dalam pertumbuhannya. Selama ini kontrol orang tua terlihat sangat minim sehingga banyak anak didik lepas kendali dan hidup dalam moral yang rendah. Kondisi demikian tidak hanya terlihat di perkotaan namun telah merambah pada kehidupan remaja di pedesaan.

Sekolah dan wali murid sewajarnya melakukan komunikasi aktif dalam hal menciptakan generasi bangsa yang berkualitas baik intelektual, emosional dan spiritualnya dan bukan komunikasi yang dilakukan dengan wali murid berkaitan dengan anggaran yang setiap awal tahunnya menjadi bahan kajian utama tahun ajaran baru.

Rendahnya komunikasi antara guru – orang tua murid menjadikan pemahaman pendidikan dan tanggung jawab anak didik seolah terbeban pada guru yang berada di sekolah sedangkan orang tua hanya sebagai pemenuh financial anak didik belaka. Control aktif orang tua tidak hanya meningkatkan kualitas moral anak, tetapi juga akan membantu meningkatkan kulitas belajar yang selama ini tergambar bahwa anak didik hanya sebagai penerima pasif dalam proses belajar mengajar. Wallahu ‘A’lam Bishshawab.

 *Penulis adalah Guru pada MTS Negeri Jagong Kabupaten Aceh Tengah

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *