Jurnalis Warga Keber Ari Ranto Terbaru

Aroma Simbiosis Mutualisme di Kopi Sada

badrinaOleh Desi Badrina*

Semua kegiatan yang sifatnya edukasi akan didukung Sada, meskipun produk kopi tidak ada hubungannya dengan kampus, namun kami berupaya membantu mahasiswa agar tidak terkekang kreatifitasnya hanya karena kekurangan dana. Begitu kata Mursada, pemilik  pemilik Sada Coffee Shop yang beralamat di Banda Aceh, Rabu 7 Mei 2014.

Dia sudah bertekat untuk menerapkan konsep simbiosis mutualisme (saling menguntungkan) pada awal mendirikan Sada.

Dalam merintis bisnis kedai kopi, dia menolak mentah-mentah prinsip ekonomi mengumpulkan untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Justru ia akan mendukung seluruh kegiatan mahasiswa yang bernilai edukasi.

“Kalau kita ingin yang membeli produk kita itu mahasiswa, maka juallah kepada mahasiswa dengan cara mendukung semua kegiatan mereka,” ujar lelaki asal Aceh Tengah itu.

Tidak hanya konsep saling menguntungkan yang ditawarkan Mursada, dia juga berkomitmen menyampaikan informasi kepada masyarakat Aceh khususnya agar tidak takut meminum kopi. Menurutnya, kopi itu menyehatkan, tidak seperti yang dipikirkan banyak orang Aceh.

Dua konsep itulah yang menjadikan Sada Coffee populer di kalangan masyarakat kampus di Banda Aceh.

Di usianya yang masih belia, tepatnya berdiri tiga hari sebelum Pekan Kebuadayaan Aceh (PKA) IV 2013, kedai kopi ini telah men-support dua kegiatan besar yang diselenggarakan mahasiswa, Saman Jazz pada Desember 2013 dan Gayo Art Summit Januari 2014.

Dalam even Saman Jazz dan Gayo Art Summit, Mursada dan karyawannya, menggelar dapur kecil di luar ruangan acara. Mereka menyediakan kopi dalam beberapa coffee maker beserta kap-kap yang siap dituangkan.

Jika ada pengunjung yang tertarik mencobanya, akan diberikan dengan relatif lebih murah dari harga jual di kedai. Selagi menyeduh kopi dan pembeli menunggu, saat itulah, Mursada menyuguhi informasi tentang kopi sehat.

Supri Ariu, mahasiswa yang turut sebagai penyelenggara Gayo Art Summit, tertarik dengan bentuk kerjasama yang ditawarkan Sada. Target Sada memilih mahasiswa sebagai segmen pasar menurutnya sangat tepat.

”Jadi, sesederhana apapun kegiatan yang diselenggarakan mahasiswa, gaungnya akan kuat bila mengikutsertakan kopi,” bangga mahasiswa FKIP Unsyiah itu.

Mahasiswa sebagai peminum pemula akan mudah menerima penjelasan mengenai kopi sehat. “Ketika informasi ini disampaikan kepada orang-orang cerdas, maka informasi tersebut lebih mudah tersalurkan,” ujarnya.

Supri berharap, adanya dukungan Sada untuk setiap kegiatan mahasiswa, maka lewat mahasiswalah informasi mengenai kopi sehat ini menjadikan orang Aceh tidak takut lagi meminum kopi, sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan membantu petani kopi.

Dalam kesempatan lain, Rita Hasiana, mahasiswi Unsyiah yang sering nongkrong di Sada mengaku nyaman berlama-lama di situ. “Selain saya suka menu kopinya, fasilitas wifinya cepat, jadi bisa ngopi sambil ngerjain tugas kampus,” kata Rita.

Saat kedai kopi di Banda Aceh berlomba-lomba memasang iklan ke media massa, Sada Coffee merasa iklan seperti itu buang-buang uang saja. Menurut Mursada, iklan paling mujarab adalah via mulut ke mulut.

Mursada menjelaskan, dalam mendukung kegiatan mahasiswa itu, mereka sudah memenegnya berapa anggaran yang bisa di keluarkan. Dan itu di ambil dari anggaran promosi Sada Coffee.

“Daripada pasang iklan mahal-mahal, mending uang iklannya disalurkan untuk membantu kegiatan mahasiswa,” tutur lelaki alumni Fakultas Pertanian Unsyiah itu.

Warung kopi berukuran 8 meter kali 6 meter itu hanya muat diisi 8 meja di dalamnya serta tambahan 6 ekstra meja di terasnya. Dinding kedai kopi itu terbuat dari kayu beroti yang dikombinasikan dengan anyaman bambu. Perpaduan itu seolah menjadikan tempat ngopi yang satu ini melahirkan suasana tempo dulu. Namun hadirnya tiga mesin pembuat kopi di tengah-tengah ruangan yang di lengkapi wifi, menjadikan kedai kopi ini semakin istimewa dan tampak modern.

Seorang penikmat kopi, Salman Yoga mengatakan bagus sekali ada orang yang berbisnis, namun juga berperan dalam memberikan edukasi dan mendukung kegiatan mahasiswa.

Menurut Salman, dari segi bisnis kedai kopi Mursada ini masih sangat kecil, tapi sudah berpikir besar.

“Harapan saya, bisnis Mursada ini menjadi besar, agar pikiran besarnya menjadi nyata,” kata Salman Yoga.

Sada-kopi

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry dan pegiat pers kampus.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *