Inilah Gayo Opini Terbaru

Peran Adat dan Alam dalam PAUD di Gayo

Oleh : Kosasih Ali Abu Bakar*
KosasihMengejar ketertinggalan adalah sesuatu yang memang harus dilakukan oleh orang Gayo saat ini. Salah satu cara yang dilakukan ialah dengan mempersiapkan generasi emas Gayo, dengan cara  meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Gayo.

Menurut beberapa ahli tumbuh kembang manusia, manusia dilahirkan dengan potensi yang sama, akal yang sama, tentunya ini sesuai dengan ajaran agama kita yang menyatakan bahwa ketika manusia lahir seperti kain putih, orang tua atau lingkungannya yang memberikan warna pada kain itu.

Seorang anak Raja bisa kembali menjadi Raja karena memang sejak usia dini anaknya dipersiapkan dengan pendidikan yang baik. Oleh karena itu, saat ini siapapun tentunya bisa menjadi Raja memang bila dipersiapkan dengan baik. Walau demikian, secara genetika bawaan pada masing-masing manusia memang berbeda, sehingga bakatnya juga berbeda. Tapi yang terpenting adalah semua mempunyai kemampuan yang sama bila berhasil dioptimalkan potensi dan bakatnya. Menuju manusia Gayo yang kompetitif

Dalam tulisan kali ini, perkenankan kami memberikan gambaran pentingnya PAUD dalam mempersiapkan generasi emas Gayo.  PAUD selalu dikatakan sebagai “The Golde Age”, karena pada umur tersebut merupakan masa emas pertumbuhan seorang manusia. Umur tersebut saatnya manusia tumbuh kembang otaknya paling cepat, seringkali dikatakan mempersiapkan wadah pada otak manusia sebagai dasar untuk tempat diisinya dengan berbagai intelegensia.

PAUD di Mata Ahli

Sebenarnya banyak penelitian tentang PAUD. Dalam tulisan kali ini perkenankan kami memberikan gambaran pentingnya PAUD oleh Bloom dan Carla Haz sebagai gambaran awal begitu pentingnya PAUD dalam kehidupan manusia.

Bloom dalam penelitiannya mengatakan bahwa pengembangan intelektual seorang anak sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Sekitar 50%, variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi sejak anak berumur 4 tahun, peningkatan mutu 30% selanjutnya terjadi masa usia 4 – 8  tahun atau mencapai 80% dan sisanya 20 % pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua atau ketika  usia 8 – 20 tahun.

Jadi jelas ketika Bloom mengatakan bahwa umur 0 – 4 tahun merupakan masa-masa penting pertama, karena pada masa tersebut hampir 50% perkembangan intelektual seorang manusia. Oleh sebab itu, kaya miskinnya lingkungan sekitar yang menstimulasi perkembangan intelektuak manusia amat mempengaruhi perkembangan intelektual seorang manusia.

Bahkan lebih jauh ia menjelaskan bahwa ini berpengaruh pada perkembangan IQ dengan perbandingan bahwa lingkungan dengan stimulasi yang kaya akan menambah 10 unit IQ dari pada yang miskin ketika berumur 0 – 4 tahun., kemudian sekitar 6 unit IQ ketika berumur 4 – 8 tahun.

Salah seorang ahli Carla Shaz mengatakan bahwa masa kritis pengembangan tumbuh kembang anak mencakup 5 (lima) hal, yaitu: pertama¸pengembangan penglihatan ketika berumur empat tahun pertama. Kedua, pengembangan perasan emosi sejak umur 2 (dua) bulan sampai mulai berkembang perasaan stress, kepuasan, girang dan sedih. Sedangkan perasaan iri dan empati baru berkembang pada usia 3 (tiga) tahun. Pada masa-masa ini pengasuhan yang penuh kasih sayang, pemenuhan nutrisi dan perawatan kesehatan merupakan persyaratan mutlak bagi pertumbuhan emosi anak. Dan perlu diingat bahwa pada masa ini juga setiap setiap peristiwa yang tidak mengenakkan atau traumatik akan berpengaruh pada keseimbangan emosi yang kemudian berhubungan dengan perkembangan kecerdasan dan empati. Ketiga, perkembangan kemampauan bahasa, sudah dimulai sejak dalam kandungan, ketika berumur 1 (satu) tahun sudah terbentuk “peta perseptual” untuk dapat mengetahui perbedaan suara atau fonem yang diucapkan dan perkembangan ini ditentukan dengan seberapa banyak anak diajak bicara atau mendengarkan. Keempat, kemampuan gerak anak,  masa kritis pengembangan gerakan berlangsung sejak lahir sampai umur 2 tahun, sedangkan masa perkembangan motorik kasar berlangsung hingga berumur 4 tahun. Kelima, perkembangan kemampuan musik, masa kritis pengembangan musik ketika berumur 3 s.d. 10 tahun, hasil penelitian Mozart membuktikan bahwa rangsangan musik sejak dini akan membina pengembangan di bidang visiospatial, matematika dan logika.

Pentingnya Peran Ibu

Bicara PAUD tentunya tidak akan pernah lepas dari peran seorang Ibu. Karena Ibulah yang mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya. Sehingga Ibu seharusnya mengetahui dengan baik tentang ilmu tumbuh kembang anak, sehingga seorang anak mendapatkan stimulus yang penuh dan baik dalam masa usia emasnya, minimal si Ibu bisa mengetahui dan mengarahkan anaknya dengan benar dalam menstimulasi anaknya secara akal, fisik, maupun psikis. Karena masa emas ini tidak akan pernah datang lagi, bila kita gagal menstimulasi dengna baik anak pada periode emas ini, maka anak kita akan membawa bukan potensi yang terbaik itu dalam seumur hidupnya.

Peran Sang Ibu menjadi penting karena pada usia tersebut sang anak usia dini menghabiskan waktunya dengan sang Ibu lebih lama, utamanya hubungan kasih dan mental antara Ibu dan anaknya, bahkan sejak dalam usia kandungan, sebuah ikatan batin yang tidak bisa tergantikan.

Pentingnya PAUD, dalam Islam kita seorang Ibu yang mengandung maka dibacakan ayat-ayat suci Al qur’an untuk anak yang dikandungnya, gunanya sebenarnya untuk menstimulus sang jabang bayi. Orang Yahudi ketika seorang perempuan sedang mengandung maka diwajibkan untuk mengerjakan soal-soal yang terkait dengan matematika setiap harinya, juga stimulasi jabang bayinya. Atau kita juga sering mendengar bahwa sejak kandungan atau ketika masih bayi agar anak kita diperdengarkan musik-musik klasik supaya anak kita menjadi cerdas.

Jadi, sekali lagi peran seorang Ibu penting untuk mengetahui fase-fase tumbuh kembang anaknya, seperti mengetahui perkembangan motorik seorang anak setiap tahun, mengetahui perkembangan psikis seorang anak itu seperti apa dan fasenya, begitu juga bisa mengidentifikasi sifat-sifat dan bakat anak sejak dini.

Stimulasi Anak Dalam Satu Kampung

Hillary Clinton, istri salah satu Presiden AS mengatakan bahwa untuk menstimulus seorang anak itu dibutuhkan orang satu desa. Sebuah ungkapan yang menunjukkan begitu pentingnya masa tersebut dan begitu hausnya seorang anak usia dini untuk mendapatkan kesempatan beragam stimulasi-stimulasi apapun sebagai bekalnya dikehidupan nanti.

Suku Gayo mempunyai adat, larangan keras untuk menikah dengan belahnya sendiri atau satu belah atau satu kampung, bila ini dilanggar maka perkawinan endogami ini akan dikenakan sanksi atau hukuman adat yang dikenal dengan nama Farak (hukuman ganti rugi menyembelih kerbau kalau tidak harus keluar dari kampong) walau pun tidak mempunyai hubungan genealogis. (Melalatoa, M.J. 1995.  Ensliklopedi Suku Bangsa Indonesia).

Adat ini berdampak kepada “anak terayomi”, karena seorang anak akan dianggap sebagai saudara sekandung. Bila ada seorang anak di sebuah belah maka ia akan menjadi anak bersama karena semua adalah bersaudara.Kondisi ini menyebabkan anak-anak tersebut mendapatkan stimulasi-stimulasi yang beragam dari berbagai orang dengan penuh kasih.

Selain itu, kenyamanan anak semakin tinggi karena adanya aturan yang memadang semua kerabat mereka sama, tidak dibedakan mana yang kandung dan mana yang tidak kandung. Maka kita tidak akan heran, kalau saat ini ama dan ine cerita ketika mereka masih kecil mereka kita tidak tahu nama dari pun-punnya, pakcik-pakciknya, awan-anannya, dan muyang datunya karena dilarang atau sumang, bahkan yang betul-betul mempunyai hubungan darahpun mereka tidak tahu, hingga mereka dewasa kelak.

Bagi anak, bentuk kekerabatan atau adat ini menjadikan ruang bermain mereka menjadi begitu luas, juga kemudian orang-orang yang menstimulasi mereka juga menjadi begitu banyak. Aturan kekerabatan ini telah menjadikan anak distimulasi dalam satu kampung.

APE Tidak Mahal, Peran Alam

Dalam PAUD, alat permainan edukatif (APE) merupakan sarana yang paling penting dalam melakukan stimulasi terhadap anak-anak. Karena menstimulasi dan pembelajaran dalam menstimulasi anak-anak usia dini selalu digunakan permainan karenan dasar pembelajarannya adalah bermain.

Bila melihat keindahan alam Gayo tentunya akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan berani terhadap tantangan. Sesuatu yang dianggap alami dengan kondisi alam Gayo yang berbukit-bukit, aliran sungai, suasana dingin, akan melahirkan jenis-jenis permainan yang mencerdaskan dan menantang bagi seorang anak sekaligus alam menjadi tempat bermain.

Sebagai bukti dalam dalam tulisan wartawan LintasGAYO, Supri Ariu beberapa bulan lalu menjelaskan terdapat 54 permainan tradisional di Aceh, kebanyak di daerah Gayo bila melihat nama-nama permainan tersebut. 54 permainan ini tentunya dihasilkan dari adaptasi keinginan bermain mereka dengan orang tua dan alam sekaligus menjadi modal dasar APE PAUD di Gayo.

Ke 54 permainan ini kiranya bisa dipikirkan kegunaannya secara ilmiah, kemudian dipikirkan juga untuk bisa digunakan dalam kurikulum pengajaran PAUD.

Selain itu merujuk kepada “Alam Terkembang Menjadi Guru”, APE juga bisa didapatkan dari alam sekitar. Sebagai contoh adalah tanah liat, aneka bahan untuk dianyam (daun-daunan, tanaman mendong, pandan, dan sebagainya), bambu, sabut kelapa, ranting-ranting kayu, tempurung, papan-papan tipis, kaleng-kaleng kosong (bekas kaleng susu, bekas kaleng odol, atau makanan kaleng lainnya), kawat-kawat, batang padi atau jerami, tanduk kerbau atau sapi, tulang, perkebunan, sawah dan ladang, danlain sebagainya yang semuanya menggunakan alam sebagai alat bermain.Tergantung kemampuan Guru untuk melakukan sebuah pembelajaran dari alat-ala tersebut.

Sinergi Pemerintah, Guru PAUD, Orang Tua dan Pemangku Adat

Sebelum melakukan sebuah sinergi, perlu diluruskan seluruh persepsi tentang PAUD secara holistik, karena bila ini tidak dilakukan maka PAUD hanya akan bersifat proyek, insidental, tidak berkesinambungan, dan berbahaya bagi masa depan anak.

Bila kita salah dalam melakukan penanganan PAUD, maka yang terjadi bukanlah sebuah pencerdasan akan tetapi sebuah pembodohan, kata hati hendak menjadi anak inovatif tapi malah membuat mereka seorang manusia yang cenderung seperti kerbau di cocok hidungnya.

Sudah saatnya Pemangku Adat melakukan identifikasi tentang adat Gayo dengan melakukan  kajian-kajian secara mendalam mengenai adat-adat Gayo yang bisa memberikan karakter dalam pendidikan di Gayo, khususnya PAUD, bagaimana masyarakat Gayo memperlakukan anak-anak mereka dan adat-adat Gayo apa saja yang memberikan perlindungan dan mencerdaskan terhadap anak.

Orang tua, khususnya Ibu berkeinginan untuk mengetahui persoalan tentang tumbuh kembang anak dengan baik, karena baik buruknya seorang anak tergantung kepada ibunya.

Guru PAUD tentunya salah satu komponen yang penting selain Ibu. Diharapkan Guru PAUD mendapatkan pengetahuan yang cukup tentang tumbuh kembang anak. Selain itu, kerjasama dengan orang tua juga menjadi utama.

Pemerintah juga diharapkan memberikan perhatian lebih kepada PAUD, tidak saja anggaran, akan tetapi bagaimana memberdayakan “Ibu-Ibu” sebagai tulang punggung pendidikan seorang anak untuk bisa mengetahui tentang tumbuh kembang anak secara baik.  Tidak lupa memberikan ilmu yang mumpuni bagi Guru PAUD, selain “Ibu”, maka Guru PAUD juga berperan besar dalam membentuk anak-anak ke depannya seperti apa, utamanya seorang Guru yang berpikir holistik untuk anak didiknya.

Selain itu, mensosialisasikan pentingnya PAUD dan menggugah hati masyarakat untuk ikut berpartisipasi terhadap PAUD itu sendiri, saling bekerjasama antara Pemerintah dan masyarakat. Bekerjasama dengan Pemangku Adat untuk menggali nilai-nilai Gayo agar menjadi corak atau karakter dalam pembangunan PAUD di Gayo.

PAUD begitu penting dalam tumbuh kembang manusia dan masa-masa itu tidak akan pernah tergantikan, anak kita akan membawanya seumur hidupnya. Sebagai anonim, ketika kita membuat wadah yang kecil, maka air yang akan tertampung juga akan sedikit. Akan tetapi bila kita berhasil membuat wadah yang besar maka air yang tertampung juga lebih besar. Tumbuh kembang anak usia dini adalah sama dengan pembuatan wadah, bila kita salah maka wadah yang terbentuk akan kecil, dan untuk selamanya air yang tertampung tidak banyak. Wadah itu adalah potensi kemampuan otak anak dan air itu adalah pengetahuan.

*Pengamat Pendidikan, berdomisili di Bekasi Jawa Barat

Comments

comments