Sara Sagi Terbaru

Hari Kartini, Momentum Perjuangan bukan hanya Resepsi

juliana_(1) (Custom)Catatan : Zuliana Ibrahim*

“Wanita  bukan hanya sekadar tulang rusuk namun menjadi tulang punggung.”

MEMETIK tema sebuah acara talkshow, di salah satu televisi swasta yang tayang pada hari Minggu (20/4/2014). Menjadi tolak ukur tentang seorang wanita yang dalam perannya selain sebagai seorang anak, istri dan ibu dalam sebuah keluarga, kini telah diberikan kebebasan berkiprah lebih luas di lingkup masyarakat.

Tepat di tanggal 21 April menjadi peringatan besar tentang lahirnya pelopor emansipasi wanita dan  pelopor itu bernama Kartini. Kartini adalah sosok yang memiliki jiwa pelajar yang tinggi. Dedikasinya terhadap dunia pendidikan khususnya bagi kaum wanita, merupakan pintu yang membuka jalan bagi kartini-kartini selanjutnya memperjuangkan hak dan pendidikannya.

Di saat ini kita bisa membaca, tentang bagaimana wanita-wanita berjiwa Kartini terus lahir di tengah-tengah masyarakat. Mereka memberi warna baru dalam segala bidang seperti ekonomi, pendidikan, kesenian, politik dan lain sebagainya. Wanita-wanita Indonesia berjiwa Kartini, terus meretaskan mimpi-mimpi sederhana mereka namun memberikan fakta yang bahkan mampu mencengangkan dunia.

Memang tak ada upacara spesial dalam memperingati Hari Kartini, namun debar perjuangan Kartini tak hanya harus dirasakan dalam prosesi sebuah upacara. Sebab perjuangan seorang Kartini, masih terus bisa dirasakan sampai detik ini.

Dataran Tinggi Tanoh Gayo adalah salah satu daerah di Indonesia yang tak terkecuali juga melahirkan wanita-wanita yang berjiwa Kartini. Kartini-kartini muda sampai kartini-kartini yang sudah berumur telah banyak merangkai impiannya sehingga menjadi kebanggaan rakyat Gayo.

Dewasa ini,  siswi-siswi berjiwa kartini di berbagai jenjang sekolah di Tanoh Gayo, semakin mencuat dan malah seperti “ketagihan” untuk terus menggapai prestasi. Siswi-siswi ini, seperti ditanami benih semangat Kartini. Sebut saja seperti tahun lalu, siswi dari salah satu sekolah menengah atas negeri di Takengon ini, berhasil menjadi salah satu petugas pengibar bendera di Istana Merdeka. Adapula yang berhasil meraih piala sebagai Qoriah terbaik di tingkat nasional. Pun semakin seringnya siswi-siswi yang selalu pulang membawa piala kemenangan dari berbagai jenis perlombaan di tingkat kabupaten, provinsi bahkan nasional.

Lain lagi dengan kartini-kartini lain, yang telah berhasil mengharumkan nama Gayo. Sebut saja seperti Yuli Wahid, pengusaha batik kerawang yang begitu populer. Adapula Ana Kobat, Hanisa Fitri, Faridah Roni, Sakdiah, Ramlah yang berkibar di bidang kesenian dan kepenulisan. Masing-masing mereka punya kemampuan yang patut diapresiasi dan menjadi bukti bahwa Gayo juga punya kartini-kartini yang mampu berkiprah di tengah persaingan masyarakat. Sebenarnya masih banyak lagi kartini-kartini dari Tanoh Gayo, bahkan mereka terekam dalam kancah politik. Semangat mereka menjadi tokoh yang layak dicontoh karena berkarya untuk Gayo.

Sebagai hari bangkitnya para wanita dari ketidakadilan, hari Kartini bukan peringatan yang hanya untuk sekadar menghayati perjuangan seorang Kartini dalam menggapai kesetaraan gender. Di balik itu adalah upaya untuk dapat meneruskan perjuangan Kartini dalam membela hak dari kaum wanita. Maka, Kartini bukanlah resepsi sebuah peringatan namun sebuah upaya meneruskan perjuangan.

*Wartawan tabloid LintasGAYO dan www.lintasgayo.co, tinggal di Takengon

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *