Sastra Terbaru

[Cerpen] Retak Cinta Disatukan Buah Hati

Oleh : Anuar Syahadat

KETIKA malam mulai larut, dari balik dinding rumah tua ukuran 4X7 meter itu kudengar sayup ocehan demi ocehan. Suara isakan tangis semakin jelas terdengar ketika kakiku melangkah mendekati rumah yang gelap diiringi nyanyian jangkrik.

“Ceraikan saja aku, aku juga sudah tidak sudi bersamamu”, kata-kata yang keluar dari balik celah dinding itu seperti tak asing lagi bagiku. Dia pasti Ibu yang sedang marah sambil menangis. Kutarik nafas dalam, dan kulepaskan perlahan bersama air mata. Keributan seperti ini hampir hari terjadi.

Orang tuaku tak pernah henti memperbasar masalah kecil, mencari kesalahan satu sama lain hingga menjadi ribut. Ibuku paling tak suka ketika Bapak pergi berjudi dan mengadu ayam di semak jalan menuju pusat Kota Blangkejeren. Begitu juga saat kudengar Bapak memarahi Ibu yang tak suka setiap hari mengoceh dan mengupat di rumah tetangga sambil mencari kutu kepala.

Tagis tak bisa kubendung, tak sadar isakan itu membuat Bapak dan Ibu keluar dari dalam rumah.

“Kenapa kamu menangis Andi, apa kamu berantem dengan temanmu? Atau dimarahi lagi oleh Ustadz Zupri gara-gara tidak bisa menghafal ayat-ayat pendek?”, tanya Ibu sambil memeluk dan mengecup keningku.

Aku langsung berlari ke dalam rumah dan mengunci pintu kamar tanpa menjawab pertanyaan mereka. Kuhentakkan badan di dipan. Meski berulang kali digedor sama sekali tidak kuhiraukan. Hatiku sedih dan sakit bagai diiris sembilu. Meski keributan antara Ibu dan Bapak sempat berhenti beberapa jam setelah aku pulang mengaji, namun di tengah malam keributan kembali terjadi mengusik tidurku. Orang yang selama ini menyayangiku kembali melakukan hal yang sangat kubenci sejak kecil.

Suara tanggis Ibu yang mulai keras juga membangunkan Ira, adik perempuanku yang masih berumur lima tahun. Ia juga ikut menangis sejadinya melihat Bapak memarahi Ibu yang terus menagis. Ibuk tetap membantah perkataan Bapak di antara air matanya yang berderai membasahi pipi.

Ku intip dari celah lubang papan pembatas dinding, Bapak memasukan pakaian ke dalam koper, ia beranjak ke arah kamarku.

“Jaga dirimu baik-baik Andi, Bapak terpaksa pergi hari ini, dan jaga adikmu, jangan lupa memberi makan kambing”, Bapak langsung keluar rumah. Aku tak tau kemana tujuannya, juga tak berani bertanya.

Di umur yang masih belasan tahun aku kehilangan kasih sayang dari seorang Bapak yang selama ini sangat memanjakanku. Aku tak pernah berpikir bagaimana nantinya kalau beribu tiri atau mempunyai Bapak tiri yang hanya menyayangi Ibuku.

Aku tak bisa memejamkan mata malam itu, air mata membasahi bantal hingga kering. Inilah teman dan saksi betapa menderitanya kami anak-anaknya. Aku tak bisa berpikir, badanku lemas dan kaku melihat tingkah Ibu dan Bapak yang tidak pernah peduli bertapa aku dan Ira sangat membutuhkan kasih sayang mereka diusia kanak ini.

Pagi menjelma, aku masih tetap sadar meski tak mempunyai tenaga. Kulangkahkan kaki keluar dari rumah untuk mandi di sungai, langkahku oleng seperti kurang darah. Burung-burung mulai berkicau dengan suara merdunya, matahari ikut membelah awan hitam tebal di atas kampung.

Meski aku harus berteriak di pagi itu, tak akan mungkin bisa menyelesaikan sengketa antara Bapak dan Ibu yang tidak kuketahui apa penyebab dibalik retaknya hubungan mereka. Dalam benaku, meski apapun yang terjadi kedua orang tuaku harus bisa bersatu kembali. Langkahku kembali menuju rumah, kuikat kambing kesayanganku ke batang kelapa yang tidak begitu jauh. Aku mengenakan seragam Sekolah Dasar dan menuju dapur untuk mengisi kekosongan perut yang tak pernah terisi sejak siang kemarin.

“Andi, sekarang Bapakmu sudah tidak ada, dia sudah menceraikan Ibu. Dari saat ini ke depan jangan lagi mencari-cari Bapakmu”, kata Ibu memecah keheningan saat dua suap nasi memasuki mulutku.

Hari-hari setelah perceraian sangat sulit kurasa, kasih sayang Ibu juga tidak seperti dulu lagi. Ibuk berusaha keras agar kebutuhan kami terpenuhi, sepulang kerja dengan kelelahan  ia tidak pernah lagi bercanda ria seperti saat ada Bapak dulu. Malah di bulan Agustus aku dan Ira tidak lagi pergi menonton pacuan kuda tradisional seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya menonton bersama Bapak aku dibelikan pistol mainan beserta pesawat terbang tempur mainan. Adiku dibelikan boneka beserta makanan gula kapas, aku dan Bapak bersorak riuh saat kuda-kuda perkasa berlari mengelilinggi arena. Tetapi kini, semua itu tinggal kenangan.

Tiga tahun berlalu, kabar Bapak masih belum kuketahui secara pasti, ia hanya mengirimkan uang setiap lebaran bersama baju baru untukku, Ira serta untuk Ibu. Sementara itu Ibu mulai sadar bertapa pentingya keberadaan seorang Bapak di dekatnya, hampir setiap shalat Ibu selalu berdo’a agar bisa kembali bersatu lagi. Terlebih ketika Ira sakit selalu memanggil-manggil Bapak. Ia berteriak agar Ibu mengembalikan Bapak yang entah dimana.

Aku akan berusaha mencari alamat Bapak sekarang, batinku. Aku ingin menceritakan bertapa seringya aku di olok-olok oleh teman sekolah akibat tidak punya Bapak. Setelah beberapa hari kuselidiki akhirnya kuketahui alamatnya, aku meminta nomor Hp-nya dari salah seorang teman lamanya yang kuketahui menetap di kampung tetangga. Aku berlari menuju rumah dan menceritakannya kepada Ibu.

“Sekarang Ibu harus jawab jujur, apakah Ibu mau baikan lagi dengan Bapak?”, tanyaku. Ibu tidak menjawab pertanyaanku.

“Kalau Ibu tidak mau baikan, aku akan pergi dan tinggal bersama Bapak, berarti selama ini Ibu yang membuat masalah”, ketusku.

Spontan Ibu menangis, ia mengatakan berbagai masalah yang tidak kuketahui asal muasalnya. Intinya Ibuk sudah sangat sering disakiti Bapak.

“Kalau memang Bapak masih menyakiti, maka saya yang akan menjadi lawannya”, belaku meyakinkan Ibu.

Akhirnya Ibu setuju untuk rujuk, tinggal aku yang menghubunggi dan membujuk Bapak agar mau berbaikan kembali. Aku berlari menuju rumah bang Asrul, kupinjam Hp-nya untuk menelfon Bapak dan berjanji untuk bertemu. Dengan menumpanggi bus kota aku menuju pusat kota Blangkejeren, dan bertemu dengan Bapak seperti perjanjian sebelumnya.

Usai menimati mie sop Sido Mulyo, aku langsung menanyakan apakah Bapak bersedia kembali ke rumah.

“Hatiku sangat sakit Andi, Ibumu sering ngomel saat aku pulang kerja. Bahkan di tuduh main judi, sakit sekali hati Bapak yang tiap hari dicirigai”, jelas Bapak dengan kesalnya.

Bapak dan Ibu sama-sama membela diri, aku binggung harus bagaimana.

“Kalau nanti Ibu masih mengomel kalau Bapak tidak salah, aku juga akan pergi bersama Bapak merantau, tapi kalau Bapak tidak mau pulang sekarang berarti Bapak yang salah. Kelak jika Bapak sudah tua, aku tidak akan mau mengurus”, ancamku sambil menjelaskan bahwa Ibu sudah bersedia untuk rujuk.

Bapak sangat tersentuh dengan omonganku, sebagai anak tentu aku tidak mau Bapak kandungku mengalami hal seperti yang dialami oleh Wak Dulah. Wak Dulah bercerai dengan istrinya, dan diusia senjanya ia tidak dipedulikan oleh anaknya. Akhirnya Bapak setuju kembali ke rumah sambil membelikan dua bungkus mie sop kesukaan Ira. Sesampainya di rumah, Bapak seperti agak malu untuk duduk. Begitu juga dengan Ibu, ia terlihat malu-malu menyantap mie sop bawaan Bapak meski sangat ingin.

Aku pura-pura sakit perut untuk mencairkan suasana. Aku menjatuhkan diri ke lantai sambil memegangi perut. Ibu dan Bapak terlihat khawatir sekali sambil bertanya. Ibuk berada disebelah kiri dan Bapak disebelah kananku. Aku memegang tangan Bapak dan Ibu, lalu menyatukannya persis di atas perutku. Mereka tau kalau aku berpura-pura, Bapak dan Ibu tersenyum tanpa melepaskan genggaman.

“Bapak, Ibu dan bang Andi lagi ngapain, Ira juga ingin ikuttttt!!!”, celetuk adiku yang tiba-tiba muncul dari balik tirai kamarnya. Kami berpelukan. Sejak itu hari-hari kulalui tanpa keributan Bapak dan Ibu. Matahari akan terus terbit dari timur. [SY]

 * Pegiat media, tinggal di Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *