Keber Ari Ranto Terbaru

Menatap Aceh Serambi Indonesia: Keindahan dari Tanoh Gayo

guel_gasEMPAT pasang anak muda menggunakan busana khas Gayo dan Alas berdiri tepat di pintu masuk Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Rabu (8/1) pukul 20:00 Wib.

Terlihat unik, keempat pasang orang muda itu dibungkus ukiran “kerawang” dengan motif yang beragam. Seraya memberi salam kepada setiap tamu yang masuk ke dalam gedung, mereka mempersilakan pengunjung membubuhkan tanda tangan pada kain putih yang dibentang. Sebagai pertanda ikut hadir pada acara Gayo Art Summit 2014.

Cuma sekitar 30 menit saja, ribuan pengunjung sudah memadati gedung tersebut. Tepat pada pukul 20:30 Wib, gemuruh sorak penonton terdengar membahana, lampu dalam gedung mulai dimatikan. Suasana senyap.

Berselang beberapa detik, dari sound system terdengar suara salam yang mendayu. Arahnya dari depan panggung, seorang perempuan terlihat duduk bersimpuh, melantunkan syair-syair bernada sedih seperti perempuan menagis.  Itu adalah “Tangis Dilo”, sebuah kesenian khas suku Alas, Aceh Tenggara.

Setelah Tangis Dilo, ditampilkan Didong Aceh Tengah dan Bener Meriah. Awalnya, irama tepukan pelan, kemudian semakin cepat, persis irama Jazzy.

Di tengah acara, penampilan Band Laskar Gayo menambah suasana semakin memuncak. Aliye, vocalis band tersebut melantunkan syair lagu “Unang Aning”, yakni lagu yang diadopsi dari syair Saman. Penampilan band terbaik untuk kategori tradisi se-Sumatera Utara itu dikolaborasi dengan Saman Gayo dan tari “Guel”, sebuah tarian khas Gayo dari Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Pada puncak acara, sejumlah gadis perpakaian adat muncul diiringi perkusi Gayo bernama Gegedem. Mereka menarikan gerak “Guel”. Dua penari berbusana kerawang warna putih dan hitam, melompat dan berputar seraya menghentak kain opoh ulen-ulen, persis dua “gajah” bertarung.

Aksi ini mendapat  aplaus meriah. Saat gerakan Guel mulai pelan, beberapa perempuan Alas masuk ke panggung berlari ke depan sambil membawa cerana sirih. Mereka menarikan tarian “Belu Mesusun” yakni tarian khas Alas sejak masa kerajaan dulu.

Tarian “kolosal” ini diakiri dengan seluruh penari berpegang pinggul sambil berputar-putar dipanggung dan langsung menutup acara tersebut.

Teks dan foto: Budi Fatria

Sumber: Serambinews.com

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *