Opini Terbaru

VOC Gaya Baru “Jajah” Indonesia ?

Oleh: Dedy Saputra E*

Pertambangan yang dikuasai asing - ilustrasi. (www.kaskus.co.id )
Pertambangan yang dikuasai asing – ilustrasi. (www.kaskus.co.id )

NEGARA kita makin tak memiliki daya tawar dalam persaingan dengan negara lain, terlalu lugunya nagara ini terhadap korporasi asing, membuat kontrak-kontrak kerjasama pengelolaan kekayaan alam, badan usaha negara dengan kooperasi asing terus terjadi.

Pihak asinglah sebagai tugu yang menerima untung lebih banyak, yang justru merugikan negara. Salah satunya adalah PT Freeport,yang menaikan kapasitas produksinya hingga 300.000 ton perhari.yang menggunduli hutan membajiri sungai dengan limbah tailing, menebas gunung hijau Papua menjadi ladang tandus dan meninggalkan dampak lingkungan dan itu masih salah satu perusahaan freeport di papua belum lagi tambang emas yang lain seperti di Sumut, Aceh, Jawa Timur, Kalimantan dan masih banyak lagi tambang-tambang yang di jajah VOC wajah baru di negeri ini.

Ironisnya, disekitar freeport misalnya, warga papua hidup dalam kemiskinan serta kelaparan. Lebih menyakitkan lagi, freeport kini menjadi perusahaan pertambangan  tembaga terbesar di dunia. Hal itu terjadi setelah freeport mengakuisisi Phelp Dodge senilai 26 miliar dolar AS, dengan menggadaikan kekayaan bumi papua sebagai jaminan, sungguh ironis negara ini.

Pada bulan Maret 2009, Majalah financial times menobatkan perusahaan minyak Amerika, ExxonMobil sebagai perusahaan nomor 1 terbesar di dunia. Exxonmobil beroperasi di 38 ladang minyak yang tersebar di 21 negara, termaksud Indonesia. Diperkirakan cadangan minyak yang dikuasai Exxonmobil mencapai 72 meliar barel, dengan produksi lebih dari 6 juta barrel perharinya. Pada tahun 2008, exxonmobil membukukan pemasukan hingga 477,35 miliar dolar Amerika.

Jumlah ini lebih besar dari kekayaan GDP 148 negara, dan masih lebih besar dari kekayaan gabungan seluruh negara miskin di Afrika dan Asia. Sementara pada waktu yang bersamaan Indonesia dibubuhi akan berlakunya kebijakan untuk penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM). Tanpa melihat realita bahwa kita kekurangan BBM bukan karena pasokan  tidak ada. Tapi lebih karena pasokan BBM kita sudah diambil alih oleh asing.

Para pengambil kebijakan seharusnya mengambil langkah efektif untuk mengambil alih laha-lahan tambang kita untuk dikembalikan dan dikelola dengan baik oleh negara bukan membiarkan bumi negeri yang diperjuangkan dengan darah dan air mata ini di jajah kembali. Tak terbendungnya kejayaan Exxonmobil, Freeport dan tambang-tambang lain di Indonesia dalam 50 tahun ini, mengingatkan kita pada kejayaan VOC pada jaman pra kemerdekaan.

VOC saat itu juga hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah abad untuk menjadi korporasi terkaya didunia sejak didirikan tahun 1602. Sejarah mencatat VOC sebagai perusahaan dagang yang luar biasa makmur, beroperasi di berbagai negara hingga mampu membagikan deviden mencapai 40% untuk setiap lembar sahamnya. Namun dibalik kejayaan VOC nama Indonesia yang dijadikan budak dinegeri sendiri, tenggelam dan tidak pernah terdengar. itulah sejarah yang terulang kembali di indonesia.

Kembalinya VOC dalam bentuk baru di Indonesia. Kali ini datang ke Indonesia dengan wajah serta baju yang tertata rapi. Tidak lagi membawa senjata, namun menjadi ancaman baru dalam bidang Ekonomi. Kita sadar, bahwa sekarang bukan Zamannya perang ekspansi wilayah kekuasaan menggunakan senjata.

Zaman seperti itu sudah berlalu untuk bangsa Indonesia. Tidak adanya membawa senjata atau mariam pembunuh massal, bangsa ini tidak sadar sedikit demi sedikit kemerdekaanya kembali dirampas. Sialnya kembalinya VOC dengan menggunakan wajah baru selalu didukung oleh sikap sebagian orang indonesia yang bermental menghamba kepada para penjajah (VOC wajah baru). Mereka adalah para aristokrat yang rela menjadi subordinat para penjajah.

Pada tahun 2045, ketika kontrak karya Freeport selesai dan tambang-tambang kita seluruhnya dijajah, mungkin tokoh-tokoh dan orang-orang yang melegalkan VOC untuk mengambil alih lahan kita saat ini telah tiada. Tapi bagaimana dengan anak cucu mereka? Para pewaris sah negeri ini.

Mereka harus hidup terpencil dan gigit jari karena bumi indonesia ini hanya tinggal warisan lahan yang tandus meninggalkan lubang-lubang besar dan pencemaran disana sini akibat pertambangan yang dilakukakan asing dan meninggalkan luka yang dalam serta harus membeli hasil tambangnya sendiri kepada asing.

Pertanyaannya adalah dihari ini. Sudahkah merasa kita  berhasil bangkit dari keterpurukan penjajahan yang menjadikan kita budak di negeri sendiri, hal ini butuh jawaban yang harus penuh dengan keberanian untuk menggerakannya dari semua kalangan dengan memulai dari langakah kecil seperti kritikan dan isu yang membangun mental setiap masyarakat di negeri ini.(dedy.acc@gmail.com)

*Warga Pante Raya, Bener Meriah

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *