Opini Sara Sagi Terbaru

Ibu, Ibu, Ibu

Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA[*]

ibu3Ketika Nabi ditanya oleh sahabat kepada siapakan kita harus berbuat baik Nabi menjawab kepada Ibu, kepada ibu, kepada ibu, baru kemudian kepada bapak. Ungkapan Nabi ini sebagai bukti betapa agungnya seorang ibu bila dibanding dengan ayah dimata agama dan di mata anak sesuai dengan perintah agama, dalam hadis lain Nabi mengatakan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Ketika anak masih berada dalam kandungan ibu selama lebih kurang 9 bulan, ibu tidak pernah merasa lelah untuk membawanya kemana ia harus pergi walau harus bekerja keras untuk mencari nafkah demi mengghidupi diri dan keluarganya, ibu juga tidak pernah katakan tidak kepada dirinya atau kepada oang lain demi untuk menyiapkan kebutuhan suami dan keluarganya sepulang dari kerja.

Pada saat anak sudah lahir ke dunia sepanjang malam ibu tidak pernah tidur demi menjaga anaknya dari gigitan nyamuk, lapar, sakit atau lain-lain yang menjadi kebutuhan anak. Ibu juga terkadang rela apabila ia tidak dilibatkan dalam pemberian nama kepada anaknya asal nama yang diberikan dapat membawa harapan semoga kelak anaknya menjadi anak amal salih  yang bisa membawa kepada kebahagiaan orang tua di dunia dan akhirat. Ada isyarat dalam al-Qur’an yang mengatakan bahwa anak adalah milik ayah karena itu maka nasab anak dinisbahkan kepada ayah, kecuali pada keadaan-keadaan tertentu, seperti anak yang lahir sama sekali tanpa ayah yang digambarkan dalam al-Qur’an dengan kejadian yang ada pada diri Nabi Isa yang nisbahkan dengan sebutan Isa Ibn Maryam dan dalam kondisi anak yang lahir bukan dari perkawinan yang sah,  kendati orang yang menyebabkan kelahirannya secara biologi dapat diketahui namun tetap tidak diakui sebagai ayahnya, menurut ketentuan ulama anak yang seperti ini dinisbahkan pada ibunya dengan memahami hadis “al-waladu lil firasy”.

Ada sedikit kejanggalan dalam realita bahwa anak yang lahir diluar perkawinan yang sah yang dinisbahkan kepada perempuan yang melahirkannya saja tidak kepada laki-laki yang menjadi sebab kelahirannya, karena alasan bahwa secara hukum anak tersebut tidak punya ayah maka si anak tidak mendapat apa yang menjadi konsekwensi hukum, seperti anak tersebut tidak mendapatkan warisan dari orang yang menyebabkan kelahirannya, anak juga tidak mendapatkan hak wali dari orang yang menyebabkan kelahirannya dan anak itu juga tidak mempunyai hak untuk memanggil ayah dalam makna hakiki kepada siapapun. Yang kami katakan kejanggalan dalam hal ini, kenapa hubungan hukum anak dengan perempuan yang melahrkannya terjadi sedangkan kelahiran anak tersebut melanggar hukum, dan kalau kepada orang (laki-laki) yang menyebabkannya secara biologi tidak diakui karena tidak adanya hubungan hukum, kenapa kepada perempuan yang menyebabkan kelahirannya walaupun di luar aturan hukum diakui, demikian juga dalam hubungan biologi. Kepada lalki-laki yang menyebabkan kelahirannnya ditentukan oleh hukum dan hubungan biologi juga tidak diakhui oleh aturan hukum, sedang kapada ibu yang pada dasarnya tidak ada hubungan hukum tetapi melahirkan huku termasuk hubungan biologisnya.

Itulah upaya yang dilakukan oleh manusia untuk mengakui anak yang lahir di luar penikahan, dimana anak tersebut dinisbahkan kepada ibu dan segala hubungan hukum juga disandarkan kepada ibu, kendati hal itu masih mengandung perdebatan dikalangan ilmuan. Seperti belum lama ini dikamukan satu pendapat tentang anak yang berbeda dengan sebelumnya yaitu tentang pengakuan hubungan biologis kepada laki-laki yang menyebabkan kelahiran seorang anak dan menetapkan akibat hukumnya dengan ikatan keperdataan, sehingga laki-laki yang menyebabkan kelahirannya harus bertanggung jawab kepada anak hukum dan biologisnya tentang nafkah dan tanggung jawab yang lain.

Itulah alasan hukum yang dapat kita nyatakan antara anak dan orang tua (ibu), sehingga pantas kita katakan bahwa Nabi dan agama memberikan penghargaan kepada ibu dengan derajat tga kali lebih tinggi dibanding ayah. Namun pesan Rasul seperti yang disebutkan dalam hadis belum mampu diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari-hari sehingga ibu tetap menjadi orang nomor dua di banding ayah.

Peringatan hari ibu yang diperingati setiap tahunnya hendaknya dapat memberi pemahaman yang mendalam bagi kita semua sehingga memunculkan kesadaran bahwa posisi ibu sangatlah tinggi dan mulia dalam pandangan agama, dan agama juga melaluai hadis Nabi menganjurkan kita untuk berbuat baik kepada ibu melebihi kebaikan kita kepada ayah.



[*] Dosen Fak. Syari’ah UIN Ar-Raniry Banda Aceh..

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *