Opini Terbaru

Tari Guel Lahir dari Sebuah Kepiluan

Oleh: Muhammad Syukri

Aga, salah seorang penari Guel di Takengon. (Khalis)
Aga, salah seorang penari Guel di Takengon. (Khalis)

SELAIN Tari Saman yang sudah syah menjadi salah satu kekayaan budaya dunia, sebenarnya di Provinsi Aceh masih banyak jenis tarian yang memiliki gerakan-gerakan unik. Gerakan-gerakannya seperti memiliki kekuatan dan nuansa magis. Kadangkala membuat para penonton seperti terhipnotis. Itulah Tari Guel. Sebuah tarian yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah.

Tari Guel, menurut buku Gajah Putih yang ditulis oleh M. Junus Djamil (1958), diciptakan oleh Sengeda, putra Reje Linge XIII. Lelaki yang beribu asal Malaka itu hidup di era Kerajaan Aceh ketika dipimpin oleh Sultan Alaidin Riayatsyah Al-Kahar.

Tari Guel, awalnya ditarikan langsung oleh Sengeda yang diiringi dengan nyanyian sedih, konon sangat memilukan. Tarian ini merupakan wujud kerinduan seorang adik kepada abangnya yang bernama Bener Meria. Ketika itu, Bener Meria telah dihukum mati oleh Reje Linge XIV. Padahal, Reje Linge XIV adalah kakak satu ayah dari ibu yang lain.

Berangkat dari sebuah mimpi disuatu malam, Sengeda bertemu dengan Bener Meria. Dalam mimpi itu, Sengeda diminta Bener Meria untuk membuat sebuah lukisan gajah putih. Kemudian, pada saat Sengeda bersama Cik Serule bertamu ke istana Sultan Aceh di Kutaraja, sebut Bener Meria dalam mimpi itu, perlihatkan gambar gajah putih itu kepada putri Sultan.

Bener Meriah menambahkan, kalau nanti ditanya sang putri, katakan bahwa gambar itu adalah gajah putih. Katakan lagi, gajah itu hanya terdapat di belantara Nenggeri Linge, dan janjikan kamu sanggup menangkapnya. Yakinlah, sang putri akan meminta Sultan untuk menangkap gajah putih tersebut. Semua pesan abangnya dalam mimpi itu dikerjakan oleh Sengeda. Benar, Sultan kemudian meminta Sengeda untuk menangkap gajah putih sesuai permintaan putri kesayangannya.

Sengeda kembali ke Kerajaan Linge untuk melaksanakan perintah Sultan. Bertepatan dengan hari Assyura (10 Muharram), bertempat ditepi sebuah danau yang jernih, Sengeda menyanyikan sebuah lagu yang sangat sedih. Nyanyiannya diiringi dengan bunyi-bunyian dari sejumlah alat musik tradisionil saat itu.

Sambil menyanyi, Sengeda pun mulai menari mengikuti irama musik. Tarian dan nyanyiannya penuh perasaan. Tarian itu mirip gerakan burung yang sedang mengepakkan sayapnya, berputar, meliuk-liuk mengitari sebuah obyek yaitu makam abangnya, Bener Meria.

Seperti ditulis oleh M. Junus Djamil, sebelum tarian itu dilaksanakan, diawali dulu dengan rangkaian doa, tirakat dan kenduri yang dipimpin oleh Cik Serule bersama penduduk yang ada disana. Ratapan dan nyanyian itu terus berlanjut sampai hari pun beranjak senja.

Penduduk yang menyaksikan tarian itu ikut “terhanyut” oleh gerakan Tari Guel ditambah lagi dengan ratapan pilu yang meluncur dari mulut Sengeda. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh raungan seekor gajah berwarna putih yang keluar dari belantara didekat prosesi itu berlangsung.

Singkat cerita, Sengeda mendekati gajah putih yang jinak itu. Dia menuntun gajah putih itu ke tengah lokasi prosesi tari guel. Tidak lama setelah itu, Sengeda berangkat ke Kutaraja untuk menyerahkan gajah putih itu kepada Sultan Aceh.

Saat penyerahan itulah dia menyempatkan diri untuk menyampaikan kisah sedih yang dihadapinya, serta meminta keadilan atas pembunuhan terhadap abangnya, Bener Meria. Laporan Sengeda langsung ditindaklanjuti oleh Sultan. Reje Linge XIV diadili dan dihukum oleh Sultan.

Begitulah latar belakang dan kisah lahirnya Tari Guel. Sebuah tarian yang berangkat dari kepiluan dan kerinduan seorang adik kepada abangnya. Tari Guel juga merefleksikan sebuah harapan seseorang untuk memperoleh keadilan. Wajar, manakala menyaksikan tarian ini, para penonton serasa terhanyut bersama ratapan dan gerakan tarian ini.

Tidak jarang, mereka yang menyaksikan Tari Guel, mengaku sempat merinding. Banyak pula yang mengatakan bahwa tarian itu memiliki nuansa magis. Boleh jadi, apalagi filosofi dasar tarian itu diciptakan berdasarkan suatu rasa kepiluan dan harapan akan tegaknya keadilan. Lebih-lebih apabila yang membawa tarian itu benar-benar menghayati filosofinya tentu pancaran aura ditempat itu akan berbeda.

Walaupun Tari Guel belum sepopuler Tari Saman, pastinya, tamu kehormatan yang berkunjung ke Takengon Aceh Tengah selalu disambut dengan Tari Guel. Kini, Tari Guel menjadi tarian kehormatan untuk menyambut orang terhormat. Seandainya tamu kehormatan yang berkunjung ke Aceh Tengah memahami filosofi dasar dari tarian itu, bukan mustahil mereka pun akan ikut terhanyut dalam ratapan dan kepakan upuh ulen-ulen oleh tangan si penari. (Sumber : kompasiana.com)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *