Keber Ari Gayo Lingkungan Terbaru Wisata

Tanggul Teluk Rawe Danau Lut Tawar Kurangi Populasi Ikan

Takengon – LintasGayo.co : Sejak dibukanya ruas jalan baru di Teluk Rawe tepatnya ditepi Danau Lut Tawar antara Kampung Gunung Suku dan Kampung Rawe Kecamatan Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah, aktivitas masyarakat sekitar semakin meningkat. Menurut keterangan beberapa warga Kampung Gunung Suku, mereka tidak tahu-menahu tentang perencanaan pembangunan ruas jalan ini atas dasar inisiasi siapa.

Salah seorangnya M. Syarif, Sabtu (09/11/2013) kepada LintasGayo.co mengatakan pembangunan ruas jalan ini tentu saja menguntungkan dirinya beserta belasan warga lain yang mempunyai lahan sawah dikawasan Teluk Rawe ini, karena memudahkan mengangkut hasil panen padi. “Sebelumnya ruas jalan cukup jauh dari lokasi lahan kami,” ujar M. Syarif.

Berbeda dengan pernyataan masyarakat Kampung Gunung Suku lainnya yang enggan disebut namanya, mengatakan bahwa pembangunan ruas jalan ini diperuntukkan untuk pengembangan kawasan wisata.

Ditinjau dari segi ekolologi perairannya menurut seorang pemerhati sumberdaya perairan Danau Lut Tawar, Iwan Hasri, M.Si menjelaskan bahwa pembangunan ruas jalan seperti di Kala Rawe ini tentu saja sangat merugikan ekosistem perairan Danau Lut Tawar.

Salah satu kerugiannya adalah hilangnya kawasan atau daerah litoral yaitu bagian perairan danau yang paling dangkal dan banyak ditumbuhi oleh tumbuhan air yang berfungsi secara ekologis sebagai daerah tempat bertelur (spawning ground) beberapa jenis ikan termasuk ikan Mas (Bawal = Gayo, red.).

Dijelaskan, zona litoral danau juga berfungsi sebagai daerah asuhan (nursery ground) banyak jenis anakan ikan sampai anakan ikan tersebut menjadi ikan dewasa, fungsi lain zona litoral adalah sebagai tempat ikan mencari makan (feeding ground) karena pada zona ini biasanya banyak terdapat bahan makanan bagi ikan.

Lebih lanjut Iwan menjelaskan bahwa hilangnya zona litoral didanau tentu saja berpengaruh terhadap semakin berkurangnya populasi ikan di Danau Lut Tawar terutama jenis-jenis ikan endemik seperti Depik, Kawan dan Nilem (Peres = Gayo, red.).

Iwan berpesan kepada semua pihak alangkah baiknya mengadakan kajian terlebih dahulu mengenai segala bentuk dampak baik dan dampak buruk dari kegiatan pembangunan yang dilakukan di kawasan ekosistem perairan Danau Lut Tawar, jika ingin ekosistem Danau Lut Tawar dan sumberdaya ikan yang ada didalamnya tetap lestari.

Senada dengan pernyataan tersebut, seorang sumber LintasGayo.co pemerhati lingkungan di Takengon mengatakan sudah cukup pembangunan tanggul Boom – Mendale serta penurapan dan penimbunan kawasan perairan danau menjadi daratan. “Jangan diteruskan lagi dengan menambah penimbunan-penimbunan kawasan perairan danau, karena dari sekian banyak zona litoral di kawasan ekosistem Danau Lut Tawar telah berubah bentuk menjadi kawasan baru yang sama sekali mengalihkan fungsi ekologisnya,” ujar sumber tersebut.

Belum lagi dengan masalah lainnya seperti pencemaran, sedimentasi, penurunan debit air dan lain-lainnya, sehingga wajarlah beberapa kalangan beranggapan bahwa Danau Lut Tawar sekarang sedang berada di pintu gerbang kerusakan dan kepunahan. pungkasnya.

Berikut foto-foto beberapa aktivitas warga yang berhasil diabadikan LintasGayo.co di kawasan Teluk Rawe, Danau Lut Tawar setelah dibangunnya tanggul. (MA).

Muna_2013-09-29_4920_Ardi
Ruas jalan baru yang telah mengubah wajah Teluk Rawe. (Muna)

 

Muna_2013-09-29_4926_Ardi
Anak-anak warga kampung Gunung Suku bermain diatas timbunan tanah jalan baru Teluk Rawe. (Muna)

 

Muna_2013-11-08_6179_Ardi
Atlet Dayung Kabupaten Aceh Tengah sedang melakukan latihan rutin. (Muna)

 

Muna_2013-11-08_6185_Ardi
Pemuda Kampung Gunung Suku dan Rawe ketika melakukan kegiatan latihan Dayung Perahu Naga. (Muna)
Muna_2013-11-09_6235_Ardi
Sebuah stasiun Televisi Nasional melakukan pengambilan gambar aktivitas permainan anak-anak di Teluk Rawe. (Muna)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *