Keber Ari Ranto Terbaru

Refleksi Diskusi Sesaat Bersama Bupati Bener Meriah

Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA[*]

Ruslan Abdul Gani
Ruslan Abdul Gani

Ketika sedang duduk di HIP Burger Banda Aceh pada hari Rabu (08/10/13) malam bersama beberapa orang teman diantaranya adalah Bazaruddin (mantan calon Bupati Aceh Tengah dan kini juga menjadi calon anggota legislatif ke Provinsi Aceh), belum lama duduk datang Bupati Bener Meriah yang ingin bertemu dengan orang Barat dan akan berbicara terntang kopi Bener Meriah.  Secara spontan Bazaruddin menegur Pak Ruslan, Bang ! jangan lagi terlalu banyak berbicara masalah ba’da maghrib. Karena sebenarnya masyarakat kita sudah muslim, masalah ibadah mereka akan mereka kerjakan dan perbaiki sendiri tetapi yang abang harus perhatikan adalah ekonomi masyarakat, masyarakat sekarang dalam keadaan sangat susah, harga kopi tidak ada, pencurian semakin meningkat.

Mungkin karena mereka sudak kenal duluan secara sepontan juga Pak Ruslan menjawab, bahwa masalah kopi adalah urusan dunia, dunia yang menentukan harga, yang paling perlu diperbaiki sekarang adalah bagaimana ibadah mereka menjadi baik, biar mereka bisa bersukur terhadap apa yang diberikan oleh Allah. Selama ini kita bangga dengan membangun Rumah Tuhan tapi kita tidak mau mengisinya, karena itulah kita lihat musibah tidak pernah berhenti menimpa kita. Karena itu pulalah kata Pak Ruslan sehingga kita menjadikan masalah tersebut menjadi hal penting dalam Visi dan Misi Bupati.

Karena itu (ketua) salah, kata Pak Ruslan kalau menganggap bahwa perhatian terhadap ibadah (ba’da maghrib) itu tidak perlu. Sebenarnya kita harus tau bah Bener Meriah adalah Kabupaten yang sangat subur tidak ada tanaman yang tidak tumbuh, tapi kenapa masyarakat kita lebih banyak hidup dalam kemiskinan, pasti ibadah kita yang belum bagus, hubungan kita dengan Allah belum dekat dan bahkan kita lalai dari mengingatnya.

Bazaruddin menambahkan, bukan masalah salah atau benar tetapi masyarakat yang ngomong bahwa bupati kita lebih mementingkan ibadah sunat (ba’da maghrib) dari pada ekonomi masyarakat, kami tidak bisa khusu’ untuk shalat sementara ekonomi kami tidak ada, itulah pendapat masyarakat yang sering terucap dikalangan mereka. Masih menurutt Bazaruddin, sebaiknya masalah yang berhubungan dengan perbaikan ibadah masyarakat Pak Bupati serahkan kepada Dinas, karena sudah ada Dinas Syari’at yang membidangi hal itu atau juga sudah ada MPU dan Kemenag.

Itulah sepintas terdengar diskusi mereka berdua sehubungan dengan keadaan masyarakat Bener Meriah dalam kacamata berbeda antara Bupati dan masyarakat Bener Meriah sebagai pemerhati yang juga sedang mensosialisasikan diri dan juga ingin berkonteribusi untuk memperbaiki keadaan masyarakat  jika masyarakat menghendaki.

Sebagai pendengar dari diskusi lepas mereka berdua saya melihat Pak Ruslan bukanlah tidak tahu keadaan masyarakat yang sekarang ini dalam keadaan sudah karena hasil pertanian tidak ada harga, buktinya beliau dengan  gencarnya mengkampanyekan atau mensosialisakan kopi kemanapun ia pergi, beliau tidal ingin kopi hanya menjadi konsumsi masyarakat luar negeri sementara masyarakat yang ada di dalam negeri tidak mengkonsumsinga. Beliau juga mengetahui apa yang menjadi pendapat masyarakat tentang gebrakan  beliau agar masyarakat lebih sering beribadah tidak hanya shalat wajib tetapi juga sunat karena dalam pemahaman beliau semua yang ada adalah milik Allah dan kita harus selalu dekat dan meminta kepada-Nya. Tetapi sayangnya semua yang ia lakukan dan semua yang ingin dia capai tidak semua orang tahu dan juga tidak semua orang butuh karena menurut kebanyakan orang masih ada yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat.

Lalu apa yang dibutuhkan masyarakat sebenarnya, tentulah perbaikan ekonomi karena masyarakat berpendapat bahwa masalah ekonomi masyarakat adalah tanggung jawab pemimpin sedangkan masalah ibadah adalah maslah pribadi, dan yang dijadikan standar oleh masyarakat terhadap pembangunan ekonomi adalah apa yang nampak di depan mata mereka, tetapi sebaliknya dalam pandangan pak Ruslan bahwa ibadah merupakan sarana yang dijadikan Tuhan untuk meminta apa yang diinginkan oleh manusia sebagai makhluk karenanya sembari berupaya memperbaiki ekonomi dan mencari solusi melalu promosi dan lobi maka memperbaikii hubungan  dan untuk meningkatkan komunikasi dengan yang Maha Pemberi Rezeki sangat diperlukan.

Solusi yang baik untuk dilakukan adalah dari dua upaya yang sama-sama benar tersebut adalah membuka komunikan antara masyarakat dan pemerintah sehingga apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam upaya memperbaiki okonomi masyarakat sebenarnya memerlukan waktu yang terkadang tidak segera. Demikian juga dengan ajakan melakukan Ibadah baik wajib ataupun sunat harus terlebih dahulu mengetahui kondisi masyarakat, dimana kita harus memahami bahwa kebanyakan dari masyarakat tidak tau bagaimana pentingnya ibadah dalam kehidupan, sehingga mereka merasa berat untuk melaksanakannya. Karena itu pemberian pengetahuan melalui pengajian, dikusi sangat diperlukan sehingga apa yang menjadi cita-cita bersama dapat tercapai.

Tidak ada sebuah kemajuan dalam sebah pemerintah  tanpa didahului oleh peningkatan pengetahuan dan kecerdasan masyarakat yang ada dalam masyarakat tersebut, untuk itu peningkatan mutu pendidikan diperlukan untuk masa depan generasi muda, tetapi perbaikan lembaga pendidikan tidak diperlukan untuk generasi yang tidak lagi muda pada saat itu, karena itu untuk generasi yang tidak lagi duduk di bangku pendidikan perlu disediakan sarana kajian dan penelitian untuk mengasah kembali otak mereka yang mulai tumpul.



[*] Dosen Pada Fakultas Syari’ah UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *