Sastra Terbaru

[Cerpen] Rekreasi Mencari Nafkah

Nur Rahmi*

 

MATAHARI berjalan perlahan ke ufuk barat, udara sejuk samar-samar menghembuskan pakaian para pejalan kaki. Aktifitas di sore hari tidak menjemukan mereka yang menapaki langkahnya menuju tempat ia menimba ilmu. Bukan kemuliaan yang mereka cari, hanya setitik ilmu yang berusaha dirangkai menjadi garis-garis lurus menuju perubahan.

Ku tapaki jalan keluar dari kampus biru tempatku merangkai titik-titik itu, bersama mahasiswa lainnya menuju jalan pulang. Sudah ada beberapa labi-labi (mobil angkutan penumpang) yang berjejer di pintu gerbang kampus, menunggu mahasiswa yang berjalan dari fakultasnya masing-masing hendak pulang ke rumah. Aku pun masuk ke dalam salah satu labi-labi yang siap berangkat.

Semilir angin bertiup kencang di dalam labi-labi yang berjalan dengan kecepatan sedang. Mataku melihat aktifitas orang-orang di jalanan. Aktifitas di sore hari yang menghangatkan, jalan-jalan bersama teman, bersama keluarga, bahkan bersama kekasih. Tak elak dari aktifitas mahasiswa yang kuliah di sore hari dan pulang ketika matahari seperempat di ufuk barat.

Pandanganku terhenti saat labi-labi berhenti di tepi jalan melihat dua orang wanita paruh baya  yang melambaikan tangan pertanda ia memberhentikan mobil itu. Benar saja, mereka masuk ke dalam mobil dengan penuh hati-hati.

Salah seorang wanita paruh baya itu duduk disebelahku. Labi-labi kembali melaju dengan kecepatannya, aku melemparkan senyuman kepada wanita itu. Ia membalas senyumku seraya berkata, “Pulang kuliah nak?”

“Iya nek,” jawabku singkat dan kembali tersenyum.

Nek Minah, ia menyuruhku memanggilnya seperti itu. Tak ada yang menyangka dibalik kerudung panjangnya, terselip tas berkualitas bagus walau tak mahal. Ia memasukkan kantong plastik berisi beberapa recehan ke dalam tas merk Louis Vuittonnya. Sepanjang jalan, tak henti ia bercerita pengalaman mencari nafkah hari itu.

“Kami masih baru mencari nafkah dengan cara ini, bahkan teman saya baru hari ini saya ajak pergi bersama,” ucap Nek Minah mulai bercerita.

Nek Minah dan temannya yang duduk di hadapanku berbincang-bincang, sepertinya mereka mencari seorang teman yang awalnya pergi bersamaan, tapi sekarang entah kemana. Bergegas ia merogoh kantong baju dasternya yang sudah memudar mengambil telepon genggam dan menelpon temannya yang di panggil tengku Tuha.

“Di mana tengku? Kami sudah di dalam mobil putih menuju jalan pulang, nanti kalau ada lihat mobil putih lewat di jalan, berhentikan saja. Kami ada di dalamnya,” katanya dengan logat bicara yang sangat khas keacehannya.

Orang-orang dalam labi-labi tersenyum melihat tingkah wanita ini. Memangnya mobil berwarna putih itu hanya satu, bahkan ia tidak menyebutkan itu mobil angkutan labi-labi atau mobil pribadi. Aku tertawa kecil. Dengan penuh percaya diri, ia memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku baju. Tak terlihat sedikitpun kecanggungan saat ia menggunakan telepon canggih di umurnya yang lebih dari setengah abad.

Di balik pakaiannya yang lusuh dengan balutan sandal jepit di kaki seadanya, ketika orang-orang melihat, mereka akan berfikir bahwa dua wanita paruh baya itu adalah pengemis. Sama halnya seperti aku saat itu. Orang-orang hanya menikmati pembicaraan kami saat labi-labi terus melaju dengan kecepatan sedang.

“Cucu saya sedang kuliah S2 (strata dua), dia tinggal di Darussalam. Biasanya kalau ke Darussalam saya singgah ke rumahnya. Tapi hari ini saya tidak singgah karena tujuan saya adalah mencari nafkah. Dan tidak memberitahukan dia, jika dia tahu hal ini saya akan dimarahi,” jelasnya, saat ia tahu aku juga kuliah di salah satu perguruan tinggi di Darussalam.

‘Hah? S2?’ batinku.

Bagaimana bisa Nek Minah mengemis, padahal cucunya saja sudah setinggi itu jenjang pendidikannya. Pastinya ia bukan dari keluarga yang tidak mampu apalagi fakir.

“Lalu, kenapa nenek melakukannya juga?” tanyaku penasaran.

“Saya tinggal sendiri di rumah. Anak-anak saya sudah merantau. Kerap sekali rasa suntuk itu datang, saya memutuskan berjalan-jalan dengan beberapa teman sambil meminta-minta. Ya, daripada cuma jalan-jalan menghabiskan uang saja, lumayan bisa dapat uang untuk ongkos pergi, pulang, dan makan,” Jawabnya seraya tersenyum.

Bukan pemandangan yang luar biasa lagi di kota ini saat kita tahu pengemis itu ternyata orang yang mampu bahkan lebih mampu dari kita saat itu. Tapi, mengapa mereka tetap melakukannya?

Kerutan-kerutan diwajah Nek Minah tak mematahkan semangatnya mencari rezeki. Ia menilai pekerjaan ini bukan suatu hal merendahkan diri, justru meminta-minta adalah rutinitasnya agar bisa berkeliling kota, setidaknya ia tahu kota Banda Aceh dengan berjalan dari warung ke warung hingga dari desa ke desa di kota ini.

Hari semakin sore, matahari pun semakin mendekati garis perbatasan di ufuk barat. Jika sedang berada di pantai, tentu ini akan menjadi pemandangan yang indah. Ku tata kembali posisi duduk di dalam labi-labi. Sedari tadi aku mendengar cerita Nek Minah dengan hanya tersenyum ke arahnya. Persimpangan jalan menuju rumahku hampir sampai, ku tekan bel tanda memberhentikan labi-labi. Lalu berpamitan dengan Nek Minah dan memberi salam saat labi-labi sempurna berhenti di persimpangan jalan.

Pertemuan yang tak terduga dan percakapan singkat yang penuh makna bersama Nek Minah dalam labi-labi. Ku tapaki jalan dari persimpangan menuju rumah, masih satu kilometer lagi baru sampai dirumah. Pikiran ku tak bisa berhenti memikirkan Nek Minah dan teman-temannya. Bagaimana bisa nenek-nenek rela menjemput lelah demi sebuah harga rekreasi. Sebegitu jenuhkah negeri ini hingga meminta-minta pun dijadikan alasan agar mendapat sebuah kepuasan menikmati hari-hari yang membosankan.

Tanpa kita sadari, masih ada Nek Minah – Nek Minah yang lain atau bahkan memang ada Nek Minah yang benar-benar fakir dan mengemis. Hanya saja terkadang mata kita tertutup saat mengasihi orang lain, bisa jadi yang kita anggap lemah malah lebih kuat dari kita dan yang kita anggap kuat padahal ia sedang menguatkan diri.

Matahari sempurna terbenam ke arah barat, azan telah berkumandang pertanda magrib. Satu langkah lagi aku sampai ke dalam rumah, berjalan menuju kamar dan ku rebahkan tubuh ini. Berharap akan bertemu dengan Nek Minah lagi bahkan aku ingin datang kerumahnya. Masih penuh misteri, dengan simbol-simbol yang terlihat ketika bertemu dalam labi-labi. Seperti apa sebenarnya kehidupan Nek Minah. Semoga!

Nur Rahmi

Nur Rahmi adalah Mahasiswi Jurnalistik pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Mempunyai hobi Membaca, Menulis, dan Jalan-jalan. Gadis semester tujuh ini lahir pada tanggal 01 Mei 1992 dan tinggal di Jln. Mujahiddin I Bak Panah I Lambaro Skep Banda Aceh. Ia dapat dihubungi di e-mail        : sii.uwlan[at]gmail.com

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *