Ekonomi Sara Sagi Sosial Budaya Terbaru

Semangat Idulfitri, Membangun Gayo Pascagempa

Gempa Gayo (bagian 8)

Catatan: Aman ZaiZa

Ibu rumah tangga sedang menyiapkan daging Meugang Idul Fitri.(LGco-Kha A Zaghlul)
Ibu rumah tangga sedang menyiapkan daging Meugang Idul Fitri.(LGco-Kha A Zaghlul)

Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM saat menjadi khatib dalam shalat Idulfitri 1434 Hijriah di Masjid Al Huda kecamatan Kute Panang, Aceh Tengah, pada Kamis 8 Agustus lalu mengungkapkan, besarnya perhatian dan bantuan dari berbagai pihak terhadap musibah gempa, harus diimbangi dengan semakin meningkatknya kebersamaan dan persaudaraan.

“Jangan sampai kita lemah dan tercerai berai, sebaliknya kita harus bersatu dan bangkit bersama untuk melalui musibah ini,” ujar Bupati Nasaruddin yang akrab disapa dikalangan masyarakat Aceh Tengah dari berbagai lapisan dengan panggilan Pak Nas.

Pak Nas lebih lanjut menyarakan, kita bersyukur, hingga saat ini bantuan terus mengalir dan tawaran bantuan dari berbagai pihak terus berdatangan, namun demikian kita harus terus bangkit, bangkit dari rasa sedih dan menjadi semangat yang kuat, Pemerintah  berusaha keras membangun kembali, agar keadaan kembali normal seperti biasa, keyakinan bahwa bencana ini datang dari Allah akan membuat kita bangkit.

Sebagaimana diketahui musibah gempa di Aceh Tengah, tercatat 35 jiwa meninggal dan 5 orang hilang, begitu juga 15.553 unit rumah mengalami kerusakan, 153 unit kantor pemerintahan rusak, 242 unit sarana kesehatan juga ikut rusak serta 381 unit sarana pendidikan dan 275 sarana ibadah rusak dan terakhir 155,32 kilometer infrasruktur jalan juga rusak.

Satu lagi yang perlu diingat dari pesan khutbah Idulfitri tersebut, bawah harus disadari bersama, musibah gempa yang terjadi adalah adalah ujian dari ketaqwaan kita. Selaku pimpinan daerah Pak Nas mengajak segenap masyarakat yang terkena musibah untuk menjalani cobaan ini dengan penuh ketabahan dan kesabaran serta keyakinan bahwa terdapat hikmah yang lebih besar dibalik bencana gempa yang  menimpa daerah kita.

Melihat pesan moral dan semangat yang diberikan ini, kiranya perlu ada juga perhatian semua pihak. Karena membangun Gayo pascagempa tidak bisa sendiri-sendiri, namun harus berjabat tangan secara bersama-sama dari semua elemen masyarakat, mulai dari jajaran pemerintahan, legislatif, Ormas, OKP bahkan kalangan jurnalis sekalipun harus punya andil besar.

Jurnalis adalah bagian dari perubahan di negeri ini, banyak perubahan yang telah terjadi di republik ini berkat ikut campur tangannya jurnalis atau wartawan, baik sebagai sosial control maupun sebagai penginformasi yang jujur dan benar.

Disadari atau tidak, saat ini pasca sebulan lebih gempa Gayo, porsi pemberitaan media nasional sudah jauh sangat berkurang, begitu juga dengan media regional dan lokal di Aceh juga mulai berkurang dalam menyajikan berita-berita tentang gempa.

Karenanya, jika media yang berbasis di Gayo terutama di Aceh Tengah dan Bener Meriah juga ikut ‘mengendor’ semangatnya, bukan mustahil rehabilitasi dan rekonstruksi Gayo pascagempa akan berjalan lama dan berlaut-larut.

Jika ini terjadi, bukan musthahil pula akan muncul berbagai persoalan baru lagi di tengah masyarakat Gayo, terutama para korban gempa. Kita sangat tidak berharap, masalah baru ini akan muncul, di tengah persoalan gempa ini belum selesai dikerjakan secara tuntas.

Disamping itu, sebagaimana tulisan saya sebelumnya pada catatan gempa bagian 7, dimana para korban gempa ini tidak selalu dijadikan objek penderitaan, seakan-akan mereka tak mampu berbuat apa-apa lagi pascagempa yang meluluhlantakan negeri Gayo ini.

Para korban gempa ini harus dilibatkan secara aktif sebagai orang yang memiliki peran besar dalam pembangunan kampung mereka. Mereka bukan jadi penonton dalam masa rehabilitasi dan rekonbstruksi yang akan dilakukan nantinya.

Sebab bagaimanapun, yang melanjutkan kehidupan nantinya adalah masyarakat kita sendiri (masyarakat Gayo) pascagempa, bukan para relawan, dermawan atau pemerintah sekalipun. Sebab, setelah proses rehab/rekon selesai, mereka akan meninggalkan para korban gempa ini. Apalagi, jika rehab/rekon ini nantinya murni beroriantasi proyek.

Saya pikir, dengan semangat Idulfitri ini, sudah saatnya kita membuka lembaran baru dari fase duku ke fase bangkit. Bahwa kita urang Gayo, sebagai suku bangsa yang tangguh untuk bisa bangkit dan tak terlalu lama dalam dekapan duka dan luka.

InsyaAllah kita segera bangkit dan mengisi catatan baru untuk Gayo yang lebih baik dimasa mendatang, tanpa ada musibah dibalik musibah…bersambung

* * *

Comments

comments