Sastra Terbaru

Puisi Kopi Razak Pulo

 

Menyesap Secangkir Kopi Di Takengon

 

Aku di sini di kotamu merajut segala sunyi menjadi pakaianku yang nyaman
Dalam dekapan sang malam, juga dalam ayunan kabut senja, serta tangisan hujan
Tatkala segala makhluk telah redam dalam sarangnya bila waktu sudah merambat dingin
Sebuah cuaca yang selalu kudambakan karena ia telah sempurna menikahi kesunyianku
Dingin dan sunyi, kekasih sejati yang tak akan terpisah oleh gempa dan tsunami
Memang begitulah kodratnya, setiap melepaskan dahaga dalam dingin
Keringat tak akan bercucur, yang lalu akan mengendap dalam tubuhku
Tapi, kau tak perlu kuatir sayang, aku akan baik-baik saja

Terimalah hidup ini, dalam cinta yang lena. Sebab cintaku pernah dirampas habis masa lalu
yang diam-diam menghisap perasaanku. Aku terpana saat mengetahui
nafsuku untuk mencinta dilekang habis oleh kesunyiaan: hanya jangkrik malam saja
yang tak luput hadir mengisi sunyi ini, dingin ini di kotamu.
Kemarilah sayang, berikan aku sebuah ciuman hangat.
Dekap aku di ujung jembatan ini: aliran sungai kecil ini bermuara ke Lut Tawar

sungguh syahdu serupa rembulan yang selalu hadir sepanjang malam, tanpa gemintang
walau kadang tak kita sadari, pantulannya telah bersemi di dalam cangkir kopi pagiku
Segelas hangat pengusir dingin. Aku suka pagi buta, belum banyak roda penuhi jalan kota.
Para pengumpul kol, wortel, tomat, dan sayur mayur lain melintas dalam degup dingin pagi
Dan aku melihat cinta di tubuh mereka yang terbalut berlapis-lapis jaket.
Sebuah cinta yang lena dalam ayunan dingin kotamu.

 

Takengon, Juni 2011

 

 

Gadis Pengutip Kopi

 

Jemari lentiknya menyusup di antara reranting kopi
Biji kopi merah dikutip hati-hati sekali
Dikumpulkan, dikeringkan senang hati
Dari pagi hingga senja tiba
Untuk memperkaya Belanda

Redelong, 5 Februari 2011

 

 

Tersesat Di Kebun Kopi

 

Aha, indahnya negrimu. Berhampar kebun kopi selimuti segala bukit,

segala gunung. Sesekali, kalau beruntung,

aku bisa melihat lembutnya kabut memeluk dedaun kopi,

mereka bercengkrama serupa sepasang murai

yang melintasi ranting-ranting, lalu menguncup menjadi dua bintik hitam

di kejauhan. Tergoda aku berkelana ke dalam hamparan kebun kopi,

Lalu melangkah aku dengan begitu ekstasi.

 

Setelah dua jam bertualang di dalam kebun, aku tersesat!

Tak tahu aku jalan pulang. Sinyal telepon lenyap tiba-tiba

Kepak sayap malam mulai sayup terdengar, mengiang lalu menghilang

Pisau-pisau dingin malam mulai berkilauan di kejauhan: menikam kulitku

Burung magrib berdecit di reranting kopi. Sang kabut mulai melandai,

perlahan, perlahan sekali, seperti turunnya sayap malaikat

Menyelimuti kebun kopi dan aku. Oh, dingin sekali, gigil dan sunyi

Malam sempurna datang. Sendirian aku di hamparan kebun kopi!

 

Aku diam, sangat diam. Menyesapi kegaiban dunia kopi gayo

Mulai aku bercakap dengan mereka: arabika, robusta

Terendus aroma kafein yang khas menyeruak dari tubuh mereka,

serupa feromon. Sangat merangsang, menyusup hingga ke pangkal kehangatan.

Mereka mulai memahami bahasa tubuhku.

kafein semakin mendekat, melekat, hangat, nikmat

Uh, kopi sedang menyetubuhiku!

 

Tanah Gayo [Bener Meriah], 03.02.2010

 

Segelas Sanger Hangat

Segelas sanger hangat temani malamku,
Ia seperti engkau kekasih mengalirkan inspirasi
Di atas dedaun imaji di penghujung malam seperti ini
Aku menitik serupa embun membasahi jalan-jalan kotaku
Yang mulai gersang dan bersuhu panas tak seperti biasanya.
Kendaraan melaju dalam gerah dan gelisah membuncah

Segelas sanger hangat temani malamku
Warnanya seperti kopi susu,
Juga seperti air kali larut lumpur menderas limpah
Dari gunung-gunung yang akar-akar pohonnya mati,
Digergaji untuk membangun kotaku ini.
Ah, teringat aku bisikanmu lagi, kekasih
Saat engkau masih hijau serupa daun,
hingga membuat ujung birahi imajiku bergetar.

Segelas sanger hangat temani malamku
Melumat segala resah dalam gerahnya penantian

Bireuen, Juli 2010

 

*Sanger: Minuman khas di warung kopi Aceh, racikan berupa kopi dan susu

(dengan beberapa perlakuan dan  ramuan rahasia)

Razak Pulo

Razack Pulo

Nama pena dari Abdul Razak M.H. Pulo. Lahir di Bireuen, Aceh. Seorang dokter PNS di Dinas Kesehatan Kab. Bener Meriah. Pernah sebagai kepala Puskesmas Buntul Kemumu Kab. Bener Meriah, kini sedang menempuh pendidikan PPDS di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Sebelumnya juga pernah bekerja di International Organization for Migration (IOM), American Red Cross, dan Medecins Sans Frontieres-Belgium (MSF-B). Mantan Ketua Divisi Fiksi Komunitas Penulis OASE, Alumni Sekolah Menulis Do Karim. Karya-karya berupa cerpen dan puisi telah dimuat di Harian Serambi Indonesia, Majalah Annida, Hello English Magazine, Tabloid Kontras, Harian Aceh, Harian RajaPost, Pro Haba, dll. Ikut serta dalam Antologi Cerpen FLP-Aceh Rumah Matahari Terbit, Antologi Puisi Tsunami Kopi. Puisi-puisi dimuat Oase.Kompas.com, dan berbagai tulisan dimuat di media cetak dan online lainnya.

Puisi Razak Pulo telah lulus seleksi tahap pertama dari sejumlah karya yang dikirimkan dan berhak menjadi nominator karya yang akan dimuat dalam Buku Antologi Puisi “Secangkir Kopi” terbitan The Gayo Institute (TGI) dengan kurator Fikar W Eda dan Salman Yoga S.

 

Comments

comments