Sastra Terbaru

Puisi Gempa “Gayo Enam Koma Dua”

AKTIVITASNYA selaku pengelola Humas Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Aceh Tengah, menuntut Darmawan S.Sos.I untuk selalu pegang kamera.  Dan disana pun, terpanggil  ‘naluri kepenyairannya’ manakala pasca musibah gempa menghentak bumi tercinta, ‘Negeri  Antara’, Darmawan, S.Sos.I  harus mengikuti jajaran Kemenag ke Lapangan memantau langsung lokasi-lokasi yang terkena efek gempa tersebut.

Tugasnya sebagai ‘orang Humas’ dengan kamera yang selalu dipegangnya, meminta dia jeli dan telaten mengarahkan kamera-nya untuk mengambil gambar-gambar terkait dengan ‘kejadian-kejadian’ atau peristiwa yang diikutinya. Termasuk juga ketika dia harus mengabadikan gambar-gambar berupa objek yang menunjukkan kerusakan akibat gempa. Disinilah dia terketuk utuk membuat puisi tentang gempa.

Di jejaring sosialnya, Darmawan yang alumnus Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam dalam akun facebooknya-pun menuliskan sebuah puisi yang penuh makna, berjudul “Gayo Enam Koma Dua”.

GAYO ENAM KOMA DUA

Gayo…….
Kisah Dua tahun lalu masih
terbayang
Bak ombak dilautan yang terhempas kepinggiran
Kasih dan sayang turut
menghilang Hingga kini
belum diketemukan

Gayo…..
 Lukamu dua tahun lalu belum sembuh
Sakit dan pedih masih belum hilang dari ingatan
Tepat hari selasa jam empat belas tiga puluh lima siang
Gayo digoncang …
Blang Mancung gemetar dengan
enam koma dua Gayo

Allahuakbar
Allahuakbar Allahuakbar,
Kute Panang , Celala dan Silihnara
Dan juga sebahagian Kebayakan,
Bebesen dan Bies
Menjadi tarikan tali gerakan blang mancung
Rumah, masjid dan menasah
hancur terpecah-pecah

Gayo….
Kuatkan dirimu
Semangat dan ceria
Hilangkan semua kesedihan
dengan selalu berdo’a,
Tawakal dan berserah diri kepada Allah swt
Cobaan dan ujian itu datangnya dari Allah swt
Gayo…
Kuatkan keimananmu
 Tingkatkan kesabaranmu,
insya Allah Gayo akan bangkit kembali
membangun bahtera yang
baru, hidup baru, suasana baru.
Amiin.

Saat dikonfirmasi apa maksud ‘kisah dua tahun lalu’ dalam puisinya itu, Mawan begitu biasa akrab disapa di kantor kemenag, menjelaskan bahwa Blang Mancung pada tahun 2010 juga pernah tergoyang gempa yang efek kerusakannya sampai ‘Gayo Enam Koma Dua’ menyusul masih dalam perehaban.

“Maksud kisah dua tahun lalu adalah, pada tahun 2010 lalu Blang Mancung digoncang gempa yang saya lupa skalanya. Belum pun selesai perehaban (bangunan-bangunan yang rusak ketika itu, pen), Selasa (2/7) kemarin datang lagi gempanya 6,2. Itu maksudnya,” ujar Darmawan yang pada bulan Mei 2013 pernah mengikuti Diklat Kehumasan di Balai Diklat Keagamaan Medan itu.

(Mahbub Fauzie)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *