Sastra Terbaru

La Tahzan Gayo

Oleh: Risman A Rachman

Bagaimana aku tiada bersedih?
Bumiku guncang, retak, ambruk
Di sana mereka tertimbun, terhimpit, terjepit
Diam, dan kaku, usai memanggil nama, Allah
Bumiku terbelah, terpisah, terisolasi
Bagaimana ini?
Bagaimana aku tiada bersedih?

Ku simak dukamu, kawan
Dalam barisan dadaku yang terguncang gempa perasaan
Kawan, akupun menangis

Ini tanganku,
Ini tangan kami semua
Terulur tulus padamu
Dan semua saudara di tanah Gayo

Maa ashaa ba mim mushiibah,
fii ardhi wa la fii anpusikum illa fii kitaabim
mangkabli annabra-a-ha.
Inna za lika ‘alallahi yasiiir

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi
dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh)
sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

La tahzan Gayo
Allah senantiasa bersama kita
Kemudahan dan kegundahan adalah keniscayaan kita semua
Kini engkau, lusa mungkin kami pula
Kesemuanya bagian dari buku sejarah hidup kita
Menurut suratan jiwa jiwa
Dalam kontrak awal serah terima ruhNya
Bekal hidup kita di dunia

La tahzan Gayo
Sedih hanya menambah sesak di dada
Dampak bencana makin terasa memberatkan jiwa
Emosi akan menyergap diri
Dan keguncangan hati akan kembali merusak hidup kini
Mari ambil hikmah untuk merawat bumi
Menjaga diri agar kembali bangkit berdiri

La Tahzan Gayo
Mari kita hentakkan lagi saman
Kita guncang lagi kesadaran
Membangun pertahanan
Menyelamatkan anak zaman
Yang terus saja di guncang gempa kemurkaan

6 Juli 2013

310557_2421085059767_1410929434_nRisman A Rachman dikenal sebagai penulis yang “damai”. Dia selain penulis juga seorang kolomnis handal. Puisi untuk Gayo ditulisnya ketika gempa menyentih seluruh maklhuk di bumi Aceh, dan puisinya dia bacakan pada “malam seribu kasih untuk Gayo”.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *