Pendidikan

Cara Anak Galang Perubahan

Catatan: Muhammad Syukri

Widya Asra Haini sedang membawakan dongeng Atu Belah.
Widya Asra Haini sedang membawakan dongeng Atu Belah.

Anak, sosok kecil yang bicaranya terkadang tak terbantahkan oleh orang dewasa. Mereka bicara ceplas-ceplos, apa adanya, yang benar dikatakan benar dan yang salah mereka katakan salah. Mereka ibarat kertas putih yang masih polos, bersih dan bebas kepentingan. Oleh karena itu, anak merupakan sosok yang paling potensial untuk menggalang perubahan dilingkungannya.

Orang dewasa akan terkesima manakala menyaksikan seorang anak bercerita atau mendongeng di depan umum dengan kalimat-kalimat yang teratur, jelas dan lugas. Tak terasa, mata bisa dibuat berkaca-kaca menyimak cerita si anak. Lebih-lebih ceritanya disertai gerakan-gerakan teater semacam yang dilakukan para trobadur.

Hal itulah yang saya alami saat menyaksikan Widya Asra Haini (siswi MI Muhammadiyah Takengon) membawakan cerita daerah berjudul “Atu Belah” dalam pembukaan Lomba Bercerita se-Kabupaten Aceh Tengah, 11 Juni 2013 lalu di halaman gedung Perpustakaan Aceh Tengah. Lomba itu diikuti oleh 58 orang siswa SD dan MI yang berlangsung selama dua hari. Pemenang dari lomba itu, untuk juara pertama putra diraih oleh Mulya Akbar siswa SDN 5 Silih Nara, dan juara pertama putri diraih oleh Nelpa dari MIN 1 Bebesen.

Manakala Widya Asra Haini mulai bercerita tentang dua orang kakak beradik yang menangis terisak-isak karena rasa lapar yang tiada tara, para pendengar mulai terhanyut. Padahal, kata Widya dengan wajah sedih, di rumah si anak terdapat sejumlah belalang yang dikurung sang ayah. Namun, sang ayah tak jua mengizinkan belalang itu dipanggang oleh kedua kakak beradik itu.

Si ibu yang mendengar tangisan kedua anaknya tak mampu berbuat apa-apa. Bahan pangan sama sekali sudah habis di lumbung mereka. Si ibu keluar rumah mencari segala sesuatu yang mungkin bisa dimasak untuk anak mereka. Sekian lama si anak menunggu, ternyata si ibu belum jua kembali. Dengan perut lapar, si anak menyusul si ibu ke dalam hutan belantara. Mereka menemukan si ibu dijepit atu belah.

Begitulah penggalan cerita yang dibawakan dengan apik oleh Widya Asra Haini. Para penonton,  tak mampu membendung air mata. Bagaimana tidak, dengan gaya seorang trobadur, Widya Asra Haini mempraktekkan gaya si ayah menghardik dua anaknya yang sedang kelaparan. Cerita itu menegaskan bahwa si ayah lebih mencintai hewan peliharaannya daripada dua anaknya. Tentu si ibu sangat sedih melihat perlakuan suaminya terhadap kedua anak mereka.

Walaupun yang diceritakan oleh Widya Asra Haini hanyalah sebuah dongeng, tanpa disadari, alam fikiran kita terbawa mengikuti alur ceritanya. Terbayang pula seandainya kedua kakak beradik itu adalah anak kita yang menangis karena kelaparan, sungguh memilukan. Disisi lain, persediaan pangan untuk dijadikan bahan makanan masih tersedia. Namun karena persediaan itu untuk mendukung kesenangan pribadi, tidak jarang anak isteri yang dijadikan korban.

Saat menyimak dongeng yang disampaikan siswi MI Muhammadiyah itu, kita berfikir, haruskah berkelakuan seperti sang ayah pemilik belalang itu? Tentu tidak akan pernah. Malah, hati nurani kita ikut menjerit seiring dengan jeritan histeris yang dilakoni oleh si pendongeng. Dengan tegas hati kita menyatakan, kita tidak ingin memposisikan diri sebagai si ayah pemilik belalang itu. Kita harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anak isteri yang menjadi tanggung jawab seorang ayah.

Begitulah, meskipun kisah itu hanya sebuah dongeng tetapi mampu menggelitik hati nurani dan mengingatkan kita kepada anak isteri yang menunggu di rumah. Kenapa? Karena dongeng itu dibawakan dengan penuh perasaan oleh seorang anak usia SD.

Menurut hemat saya, mendongeng atau bercerita merupakan salah satu cara paling efektif bagi seorang anak dalam menggalang perubahan. Oleh karena itu, sudah selayaknya mengapresiasi jajaran perpustakaan yang telah menyelenggarakan lomba bercerita tersebut.

Sayangnya, tidak semua orang menyaksikan dan mendengar anak-anak itu bercerita. Oleh karena itu, yang tersentuh hatinya hanya beberapa orang yang hadir ditempat itu. Dengan demikian, seorang anak sangat potensial menjadi agen perubahan.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *